Selasa, 21 Mei 2013

Mama Goose Restaurant and Bar








Common House 2nd floor
 Jl. Panglima Polim IX no.16 Jakarta Selatan
Tel: 021 722 9292
web: www.mamagoosejkt.com

Senin, 20 Mei 2013

Mendaki Gunung, Lewati Lembah

pelabuhan teluk bayur. bukan sekedar syair lagu
benteng fort the kock. dahulu benteng sekarang talang air.

danau maninjau. diambil saat mobil melaju di kelok 44

lembah harau. tempat pertama yang bikin gue ingin menetap.

satu sudut lembah harau.
reka ulang pertarungan minangkabau
monyet cek spion di kelok 12

bukittinggi. kota di atas bukit, di kaki gunung.
redaksi Padusi Koto

Minggu, 12 Mei 2013

Mika: Im a performer, not a celebrity









Kedatangan Michael Holbrook Pennima, Jr atau yang dikenal dengan nama Mika bisa jadi telat tiga tahun sejak lagu-lagunya booming di tanah air. Toh itu tidak mengurangi antusias para fans untuk menyaksikan penampilan pertama Mika di Skenoo Hall Gandaria City pada hari jumat (10/5). Dibawa oleh M-Prod, Mika pun tampil total untuk para fans di Indonesia yang ia gambarkan sebagai hardcore fans.

Teriakan histeris langsung memenuhi hall saat live band pengiring Mika muncul, disusul dengan kehadiran penyanyi asal Inggris berdarah Lebanon di atas panggung. Lagu ‘Relax, Take It Easy’ tidak sanggup membuat penonton di barisan depan menjadi tenang. Kerinduan selama tiga tahun akhirnya terpuaskan. Mika tampil charming dengan kostum a la british lengkap bertopi fedora.

Bukan cuma penonton yang bergairah, Mika sendiri seakan punya energi melimpah dan langsung menari, berlompat hingga berlari dari ujung ke ujung panggung. Setiap detik dalam konser Mika selalu penuh kejutan. Sebelum lagu ‘Lola’ dinyanyikan, Mika menyapa fansnya mengajak bersiap-siap menari sepanjang konser. Ditemani suara falsetto Mika dan aksi gila-gilaannya, tentu saja ajakan Mika dapat sambutan meriah.

Di lagu berikutnya, Mika sudah siap unjuk kebolehan bermain piano. Pianonya sendiri terlihat unik dengan potongan kaca yang melapisinya. Senyum jenaka tidak lepas dari wajah Mika sepanjang konser, apalagi menyadari penonton selalu ikut sing along di setiap lagunya. Sejenak Mika menghentikan detingan pianonya dan berkata. “Jakarta can sing,” diiringi senyuman cemerlang.

Puas bermain piano, Mika yang sudah mengeluarkan tiga album ini kembali nggak bisa diam di atas panggung. Nggak tanggung-tanggung, Mika sampai bernyanyi dan berpose di atas piano. Semua dilakukan dengan spontan, seperti yang diungkapkan Mika, penampilannya di tiap konser menggambarkan moodnya saat itu. Untunglah Mika bukan sosok yang sering bad mood.

Kejutan lainnya sudah dipersiapkan, pada lagu ‘Popular’ Mika menghadirkan paduan suara yang terdiri dari 13 orang pemenang kontes yang diadakan oleh Close Up sebagai sponsor. Melihat interaksi dan keakraban Mika bersama paduan suaranya, penonton lain cuma bisa berteriak nggak rela. Siapa sih yang nggak kepengen satu panggung bareng Mika?

Penampilan Mika selama satu setengah jam bisa dibilang terlalu singkat. Total 16 lagu dinyanyikan Mika pada konser kemarin. Lagu-lagu seperti 'Celebrate', 'Happy Ending' dan 'Big Girl ,You Are Beautiful', 'Emily', 'Rain', 'The Origin of Love', 'Underwater' hingga 'Grace Kelly' yang melambungkan namanya, tak lupa dibawakan. Lagu ‘Emily’ aslinya berjudul Elle Me Dit dan ditulis dalam bahasa Perancis, seperti yang dinyanyikan Mika ketika konser.

Kemeriahan suasana konser meledak saat Mika menyanyikan ‘Love Today’, gumaman “Tarariraridum,” terdengar di seluruh area konser. Sekali lagi Mika berlari di panggung dan menaiki piano. Menampilakan pose lucu pada setiap bait tarariraridum, tiduran di atas piano, mengangkat kaki, dan kembali melompat ke panggung. Kolaborasi Mika dan Max, bassis sekaligus backing vocal, memancing tawa penonton. Mika meminta bantuan penonton agar Max mau berhenti bersenandung tarariraridum. Well, Mika, that thing still stuck in my head until now.

Duet Mika bersama penonton dalam ‘We Are Golden’ menutup konser malam itu, sebelum Mika muncul kembali membawakan ‘Lollipop’ sebagai encore. Penampilan yang cukup singkat setelah penantian panjang. Bahkan para penonton pun merasa tidak percaya jika acara sudah usai. "Terima kasih Jakarta, kalian luar biasa," ujar Mika penuh semangat sambil turun dari panggung.

Teks dan foto: Shinta
 Untuk Aplaus The Lifestyle

Tiffany Alvord Live in Jakarta: Humble and Intimate Night









Memulai akun Youtube-nya di umur 15 tahun, Tiffany Alvord termasuk ke dalam Top 100 Most Subscribed Channel dengan 1,310,426 subscribers dan 300 juta views. Menyambut penampilan gadis asal California ini pun, para Tiffanatics, fanbase Tiffany di Indonesia, memenuhi Teater Nusa Indah, Balai Kartini, Jakarta. Kamis (28/3) kerinduan mereka melihat performance Tiffany secara langsung pun terbayarkan.

Konser dimulai jam 19.30 oleh penampilan dari pemenang kontes Opening Act yang diadakan promoter, Mahana Live. Dilanjutkan penampilan apik dari solois Dinda yang baru saja mengeluarkan album ‘Sabar Ya Sayang’. Dinda juga sempat berduet dengan Abdul dari Abdul & The Coffee Theory dan mendapat sambutan hangat dari penonton. Selepas penampilan Dinda, penonton ramai memanggil Tiffany agar segera naik ke panggung

Jam 20.15 Tiffany naik ke panggung dengan long sleeve dress putih bermotif tribal dan wedges bertali. Tampilan casual Tiffany menciptakan suasana akrab bersama penonton yang tak henti meneriakan namanya. Lagu The Reason Is You langsung dilantunkan diikuti dengan lagu cover Both Of Us milik Taylor Swift feat. B.O.B.

Menikmati penampilan Tiffany seakan berinteraksi bersama seorang sahabat. Sepanjang acara, Tiffany melayani pertanyaan yang diteriakan penonton, seperti ‘Can you speak Indonesia?’. Tiffany langsung melontarkan kalimat ‘Apa kabar?’ dan ‘Mantap, that’s means great, right?’ untuk menunjukkan kemampuannya berbahasa Indonesia. Ia pun selalu membalas ungkapan ‘I love you, Tiffany’ sambil tersenyum lebar.

Deretan lagu original yang ia tulis sendiri selalu disertai kisah dibalik penulisan lagu tersebut. Seperti cerita tentang patah hati melalui lagu The Breakdown, pengalaman cinta lainnya tertuang dalam lagu Never Lover Boy, juga lagu yang pertama kali ditulis Tiffany saat ingin mengungkapkan perasaannya pada cowok yang ia taksir, Baby, I Love You.

Permainan gitar dan ukulele Tiffany juga menjadi saat yang ditunggu penonton. settingan cahaya dan tata letak panggung yang sederhana seakan makin menonjolkan musikalitas Tiffany. Meski hanya bermodal akustik dan minus one,  toh Tiffany sukses mengajak penonton terus bernyanyi sepanjang penampilannya. Tidak sekalipun penonton lupa dengan lirik lagu original milik Tiffany.

Suasana akrab dari panggung dan bangku penonton semakin menghangat saat Tiffany membagikan dua t-shirt untuk penonton. Di tengah acara, seorang bocah perempuan yang duduk di bangku VIP menyerahkan selembar kertas untuk Tiffany. Penuh suka cita Tiffany memperlihatkan kertas tersebut, ‘She draw me, oh so cute.’ Ucapnya terharu.

Konser yang dibagi menjadi dua sesi ini dilanjutkan dengan lagu cover dari One Direction, What Makes You Beautiful. Tiffany juga membawakan tiga lagu cover lainnya seperti If I Lose Myself karya One Republic, Hey Soul Sister dari Train dan lagu dansa Magic milik B.O.B serta Taylor Swift, We Are Never Getting Back Together. Acara mendekati akhir saat lagu cover The Wanted, Glad You Came dilantunkan. Dilanjutkan dengan encore lagu original milik Tiffany yang juga menjadi judul dari album keduanya, My Heart Is.

Teks dan foto: Shinta
Untuk Aplaus The Lifestyle

Sabtu, 11 Mei 2013

choose to be happy

Saya kenal rekan kerja yang satu ini hanya beberapa bulan. Sepanjang bulan yang singkat itu, ia terus mengeluhkan pekerjaannya. Gaji, fasilitas, jobdesk, tingkah bos dan rekan kerja lainnya.
Ia lebih tidak bahagia dari saya, ketika itu.Dan ketidakbahagiaannya tercermin keluar. Ia tampak lusuh, tidak menarik, jarang tersenyum dan seriiing banget ngedumel.
Barusan saya bertemu dia di arena konser. Ia menangkap tangan saya yang menggapai-gapai udara. Perlu beberapa detik bagi saya untuk mengenalinya. Bahkan saya baru ingat namanya sekarang ini.
Apa yang berubah? Pancaran auranya. Ia sekarang bahagia. Ia tidak menyatakan itu, saya pun tidak menanyakannya. Saya hanya yakin ia bahagia. Mungkin karena saat itu ia sedang menyaksikan penampilan artis favorit. Mungkin juga karena tempat barunya lebih menyenangkan.
Tadi saya tidak sempat merasa iri karena pancaran kebahagiaannya. Justru saya merasa bersyukur ia menemukan kantor yang bisa membuatnya menyukai hal yang ia kerjakan. Seperti saya bilang, buat beberapa orang, kantor yang dicari adalah yang nyaman.
Nah, kita selalu punya pilihan. Bertahan di kantor lama dengan gaji seadanya dan pekerjaan yang tidak kita sukai, pindah ke kantor bergaji tinggi dan melakukan hal baru yang tidak membuat kita nyaman, atau membebaskan diri dari keharusan absen 9-6. We can always choose. So choose to be happy.
Published with Blogger-droid v2.0.10

Jumat, 10 Mei 2013

Bertemu kawan lama

Hari ini saya punya janji bertemu kawan lama. Dia yang saya kenal selalu berkata pedas. Komentarnya dimaksudkan untuk menjatuhkan harga diri lawan bicaranya. Dia juga teman yang setia. Tidak pernah ragu mengeluarkan materi dan tenaga untuk membantu teman lainnya. Selalu punya waktu untuk mendengarkan keluh kesah siapa saja. Nikmati drama seperti ia menciptakannya.
Hari ini kami akan bertemu. Seperti tahun-tahun lalu, ia selalu memilih duduk di dekat jendela. Menatapi orang lalu lalang. Mereka cerita dalam otaknya, berbaur dengan imajinasinya.
Saya menyapanya, 'apa kabar?' Melihat garis wajahnya yang mengeras. Tatapannya masih setajam dulu, namun saya bisa melihat luka dan ambisi. Ia bukan peminum kopi. Tidak juga menggemari teh. Di hadapannya hanya ada sebotol air mineral dan laptop yang terbuka.
Ia mulai bercerita. Saya tau itu alasannya memanggil saya. Saya adalah satu-satunya teman yang ia percaya penilaiannya. 'Saya ini bukan seniman,' ia berkata, 'saya tidak bisa tetap berkarya tanpa diupah. Saya cuma orang upahan, buruh serabutan.'
'Tapi toh kamu tetap menulis kan? Hal-hal yang tidak kamu jual. Apa bayaran dari mereka?'
'Kewarasan. Dunia ini gila. Fiksi lebih masuk akal. Tapi di dunia nyata? Lebih menyeramkan, lebih banyak intrik. Menulis menetapkan kewarasan saya.'
'Kamu membenci dunia? Kenapa?'
'Seharusnya kita tidak bisa membenci dunia. Karena kita masih hidup di dalamnya. Namun saya tumbuh besar dengan kisah dalam otak saya. Seperti saya bilang, dunia nyata lebih menakutkan. Karena mereka nyata. Tidak, saya tidak membencinya.'
Lama kami terdiam. Ia mengetikkan sesuatu di laptopnya, mungkin pertemuan kami mengilhaminya sesuatu.
'Saya kalah.' ia berucap. Saya tau ia kalah sesering saya. Adalah hal baru ketika ia menyatakannya.
'Saya kalah. Saya gagal mewujudkan dunia ideal saya.'
'Kamu keliru. Jangan begitu keras pada diri sendiri. Kamu bukan Tuhan. Rencanamu tidak mutlak.'
'Tuhan? masih adakah Dia di atas sana? masih layakkah saya untuk memohon kemurahan hatinya?'
'Saya tidak tau itu.'
Pertemuan ini melelahkan. Ia seakan memeras otak saya untuk berpikir melewati akal sehat. Pertanyaannya adalah sampai mana akal sehat dia?
'Jika semua dikembalikan pada Tuhan, maka selesailah masalah saya. Apakah Tuhan yang menyelesaikannya? Atau Ia menarik tali saya untuk menyelesaikannya sendiri?'
'Kamu tau benar saya tidak bisa berspekulasi tentang cara kerja Tuhan.'
'Saya butuh uang.'
'Saya bisa memberikan itu.'
'Apakah uang akan menyelesaikan masalah saya?'
'Tidak juga. Penyelesaian masalahmu, apapun itu, berada pada penerimaan mu atas hal yang telah terjadi. Memaafkan dirimu. Karena kamu bukan malaikat yang tidak bisa salah.'
'Kamu membosankan. Kenapa kamu selalu bisa menjawab pertanyaan saya?'
'Karena jawaban itu mudah. Berbeda dengan pertanyaan. Kadang, pertanyaan dibuat sulit. Tapi jawabannya selalu mudah.'
'Hidup mu pasti bahagia.'
'Kadang. Kadang juga tidak. Toh saya berusaha tidak bicara terlalu banyak. Karena lidah tidak selalu bisa menyelesaikan masalah.'
Kami kembali diam. Saya tau banyak hal yang tidak ia pahami. Berulang kali saya berkata padanya. Hidup tidak untuk dipahami. Kadang kita hanya bisa menjalaninya dan siap untuk terkejut.
'Saya pernah bilang kan,' ucap saya, 'kamu tidak perlu mempertanyakan setiap hal yang terjadi. Jika ada yang meninggalkanmu, itu bukan salahmu. Jika kamu tidak punya uang, kamu tidak perlu memaksakan untuk punya. Hiduplah apa adanya. Tanpa prasangka, tanpa tekanan.'
'Kamu, pernahkan ke dunia nyata? di sana penuh prasangka dan tekanan. Saya sangsi kamu yang seperti ini dapat bertahan sedetik di sana.'
Dia benar. Bagaimanapun saya tidak nyata. Saya bagian dari dunianya yang ia bangun untuk melindungi diri dari kenyataan yang keras. Seperti yang ia bilang, saya diperlukan untuk menjaga kewarasannya. Pada akhirnya, ia harus sadar. Tiada seorang pun yang harus ia senangkan. Hidupnya adalah miliknya. Tanpa prasangka. Tanpa tekanan. Begitu, baru manusia bisa hidup sebagai dirinya sendiri.
Published with Blogger-droid v2.0.10

Senin, 06 Mei 2013

Kamu kerja cari apa?


Sebenernya kalau mau wirausaha jangan mentok di: modalnya gak ada. Karena modal yang utama adalah skill. Dan salah satu skill wajib berwirausaha adalah mental. Kalau belum punya mental wirausaha. Yuk deh sama-sama jadi buruh kayak saya.
Biar statusnya cuma buruh, jangan menganggap remeh diri sendiri. Buktinya revolusi di Eropa dan perang sipil di Amerika, bermula dari gerakan buruh. Nah buruh juga kudu meratiin hal berikut supaya tahan lama kerja di suatu perusahaan.
Kerja cari apa? Itu pertanyaan pokoknya. Kamu kerja mau cari gaji gede, berkarir, mengejar cita-cita, cari jodoh, cari kantor bergengsi, cari kerjaan yang rekan kerjanya baik atau sekedar asal punya kerjaan aja?
User. Ini penting, karena user adalah orang yang harus kamu puaskan kebutuhan psikologisnya. Terutama dari segi keberhasilan kerja. Makanya kalau wawancara kamu bakal ketemu sama user ini. Dia bakal jabarin jobdesk kamu dan kamu harus banyak nanya tentang ritme pekerjaan. Lalu yang dilakukan sambil diam adalah rasakan dengan hati, apakah kamu cocok kerja di bawah orang ini?
Fasilitas. Pas wawancara kerja kamu pasti ngisi banyak form. Salah satunya tertulis tentang fasilitas dan gaji yang diminta. Triknya gini, kalau kamu mau gaji 5juta, tulis angka 6juta pada kolom gaji yang diminta. Tentu saja dengan mengukur skill diri dan kemampuan kantor untuk membayar. Ada loh majalah yang kurang laris gajinya gede, lebih gede dari majalah yang mengklaim terlaris.
Kenapa demikian? Biasanya ini ngaruh ke fasilitas. Ada perusahaan bergaji kecil dengan fasilitas mumpuni. Ada yang gajinya gede tapi fasilitasnya minim. Ada juga yang gajinya udah gede, fasilitas lengkap dan kerjaannya gampang. Kalau ada lowongan di tempat kayak gitu, saya duluan daftar.
Lokasi. Ini juga penting, apalagi kalau rumah kamu di tengah kota kayak saya. Mau ngekos kok rasanya gimanaa gitu. Katanya sih, sebagian besar waktu pekerja di Jakarta habis di jalanan. Bersamaan dengan waktu, stamina dan semangat juga habis. Kecuali kalau kamu pulang pergi kerja sama pasangan, sambil gandengan tangan. Banyak yang pas wawancara ditanya 'kenapa mau kerja di sini?' jawabannya 'lebih dekat dengan rumah'.
Kerja sesuai passion itu bonus. Bukan keharusan. Kenyataannya banyak orang yang nggak tau passion itu apa. Terus nih, hobi jangan dijadiin kerjaan. Hobi itukan kegiatan kamu di waktu luang. Sedangkan kerjaan harus selalu kamu lakukan. Dan nanti kamu bingung sendiri mau cari hobi baru apa.
Jadi nih, hal yang terutama ketika bekerja adalah kamu melakukannya tanpa terpaksa. Dengan rasa riang gembira. Nggak peduli orang bilang apa. Toh, kamu yang tau kenyataan dari semua ini.
Kalau saya sih tetep, i work with passion, for money, to living.
Published with Blogger-droid v2.0.10

Selasa, 30 April 2013

focus

Gue termasuk well-planned person. Walau kadang eksekusinya sesuka hati. Jadi sejak mulai tertarik dengan kamera dslr, gue jadi kehilangan fokus. Atau mungkin jauh sebelum itu jugaan gue udah gak fokus?
Gue rasa sih normal kalau manusia itu banyak maunya. Kabarnya kita nggak akan merasa puas hingga mulut dipenuhi tanah alias meninggal dunia. Banyak mau nggak masalah lah yah, asal nggak nyusahin siapa pun termasuk diri sendiri.
Kalau dirunut, mungkin keinginan gue cuma satu: belajar. Nah, karena banyak hal yang mengundang rasa ingin tau gue, jadinya banyak yang mau gue pelajari.
Paling pertama, gue mau belajar gitar/gitarlele. Jaman smp sempet belajar, begitu bisa satu lagunya so7, gue berenti. Kapok jari gue pada kapalan. Aduuuh sakiit. Aslinya gue pengen bisa main gitar buat modal ngamen. Hahaha, kadang enak aja ngeliat pengamen cuma gonjrang-gonjreng dapet seceng.
Lalu mau belajar fotografi. Walaupun foto gue sudah tercetak di beberapa media nasional, gue masih merasa kurang mumpuni. Di fotografi sendiri, ada banyak kekhususan. Dan gue cuma bisa foto jurnalisme. Ini lebih disebabkan gue kurang punya taste. Gue lebih seneng foto yang bisa mendukung tulisan gue.
Sadar foto gue biasa aja, gue pengen bisa digital imaging. Kemaren-kemaren sih gue freelance di studio foto dan dipaksa ngedit foto. Terus gue meringis. Sampe sekarang cuma bisa nge-crop karena rajin ngoleksi foto korean idol. Niatnya mau belajar di RGBstudio di jalan Benda. Atau sekalian ikut short course di IKJ.
Gue juga mau belajar ilmu psikologi anak dan remaja. Soalnya sudah kesepakatan umum kalau umur psikologis gue itu 15 tahun. Jadi gue pengen lebih banyak belajar soal itu. Ini juga nyambung sama cita-cita gue jadi guru. Sempet kepikiran juga kuliah lagi di UNJ supaya bisa jadi bu guru.
Karena sering bikin photoshoot dan kesulitan cari make up artist, gue pun kepengen belajar make up. Tapi ini sih mentok dimodal banget. Belum lagi ngumpulin printilan alat make up. Urgh mau banget beli brush di body shop itu. Huhuhu.
Belakangan gue juga suka bikin baju. Tapi bukan proses menjahitnya. Biasanya gue iseng gambar2, mukanya sih anime, tapi bajunya lumayan wearable laah. Gambar ini gue bawa ke tukang jahit deket kuburan. Terus berembuk, dari mulai pola sampe bahan. Abis itu bahannya gue cari sendiri, ke pasar kaen sekalian beli kancing dan benang. Pasti asik nih kalau gue bisa jahit sendiri.
Tuh kan, banyak banget yang mau gue pelajari. Giliran ada duitnya, gue gak ada waktu. Sekarang, pas ada waktunya, gue gak punya duit. Ternyata benar, yang kita jual untuk mewujudkan impian orang lain adalah waktu kita. Makanya, jangan dijual murah. Dan lebih penting lagi, gue harus fokus sama satu/dua kegiatan. Supaya bisa keliatan hasilnya.
Sekarang gue ngapain dulu yah?
Published with Blogger-droid v2.0.10

(not) a common place for common people






 taken from LivingETC Indonesia vol. April 2013

Kamis, 25 April 2013

prejudice


Sebagai pekerja lepas, saya mulai lebih banyak melakukan interaksi dengan orang rumah. Mereka yang kadang cuma sempet disapa sebelum berangkat beraktivitas dan sebelum tidur. Merasakan ini hampir sebulan, rasanya kemarin itu membodohi diri dengan bermacet-macetan di lalu lintas ibukota. Tiap pagi dan sore.
Ketika sedang bersosialisasi dengan masyarakat setempat (yang terus-terusan nanya kok saya gak kerja) saya mendapat sebuah temuan.
Suatu hari ada ibu rt yang bikin acara aqiqah sekaligus ulang tahun cucu laki-laki pertamanya. Karena keterbatasan dana dan ruangan, si ibu rt cuma ngundang temen arisan rt dan keluarga dekat. Acara pun selesai. Semua gembira. Hingga keesokkan harinya.
Ada seorang tetangga bergumam pada tetangga lain: 'bu rt marah apa yah sama saya. Anak saya nggak diundang ulang tahun cucunya. Saya nggak diundang aqiqahan juga. Apa marah karena saya nggak mau pindah?' (fyi, ibu ini ngontrak di kontrakan pak rt. Dan diminta pindah karena kontrakan mau dibenerin)
Cerita pun bergulir dari mulut ke mulut. Telinga ke telinga. Dengan pemahaman yang berbeda-beda dari penyampainya. Hingga ke anak si ibu rt. Penuh emosi si anak cerita ke ibu rt. Bahkan ditambah embel2 'pake jilbab kok kelakuannya gitu. Nyebar-nyebar ke kampung kalo papa marah ma die makanya gak diundang ke acara mama.'
Selepas kepergian si anak, bu rt tampak sedih. Dia bilang ke saya hal ini mengganggu pikirannya. Perasaan bersalah sekaligus kecewa. Kenapa dia sampai dipergunjingkan seperti itu? Didorong rasa kecewa ia berucap 'air tenang menghanyutkan. Orang diem-diem bisa bikin gosip juga'. Something you dont know wont hurt you. Andai si anak nggak bercerita penuh emosi, rasanya bu rt nggak akan sesedih ini.
Lain hari mereka tak sengaja berpapasan. Si ibu rt blg 'bu, saya nggak enak banget denger omongan ibu nggak saya undang karena pak rt marah masalah kontrakan. Enggak begitu, bu. Saya emang cuma ngundang temen arisan dan keluarga.' si ibu pun meminta maaf. Keduanya saling memaafkan. Apakah masyarakat setempat melupakannya, itu cerita lain.
Andai saja si ibu menahan prasangkanya. Andai saja si tetangga tidak menyebar pada tetangga lainnya. Andai si anak tidak bercerita penuh emosi. Andai ibu rt bukan orang sensitif dengan hati lembut. Kericuhan 3 hari ini tidak harus terjadi.
Tapi batu sudah dilempar. Riak yang ditimbulkan mungkin sudah menghilang. Namun batu tadi tetap tinggal di dasar air. Prasangka adalah hal yang paling cepat tumbuh dalam hati manusia. Jika tidak diatasi, ia akan membakar seperti kayu terbakar api.
Kita kan cuma manusia. Baik berhijab ataupun belum, kita menganalisa keadaan seperti yang kita lihat, dengar dan rasakan. Alangkah baiknya kita berbicara satu sama lain daripada membicarakan satu sama lain. Yang seperti itu, cuma menunjukkan siapa diri kita.
Btw, mereka juga mulai bergunjing soal kenapa shinta sekarang sering di rumah. Apa mungkin saya harus bilang, saya nggak mau lagi menjual waktu berharga saya untuk uang yang sedikit. Walau menurut saya it's nobody business.
Published with Blogger-droid v2.0.10

Sabtu, 20 April 2013

askhole

Mantan kolega sempat bilang. Orang sagittarius itu emang sering banget jadi tempat curhat yah. Entahlah apa ada hubungannya dengan zodiak atau nggak. Nggak tau juga apakah sagittarius lainnya bernasib sama. Tapi bahkan beberapa kali pindah media, sempet diutus jadi penanggungjawab rubrik curhat. Dari mulai ibu muda sampai anak remaja.
Begitu pula kebanyakan teman. Gak cowok gak cewek. Yang lebih tua dan lebih muda. Mulai dari karir sampai percintaan. Kadang sampe mikir seenggaknya mereka masih inget gue (kalau lagi ada masalah).
Suatu hari gue baca postingan di 9gag, askhole: orang yang selalu nanya pendapat lo tapi gak pernah melakukannya. Wah, temen gue banyak yang askhole dong? hahaha. Menurut gue gak begitu.
Kita, pada umumnya udah tau jalan keluar atas masalah kita. Paling tau dr orang lain malah. Tapi kenapa kita nanya? Gue pikir itu karena kita butuh dukungan moral atas keputusan itu. Bisa juga karena kita penasaran, apa yah yang akan dilakukan orang lain pada kasus yang sama?
Sayangnya, selalu tak pernah sama. Walau sekedar mutusin pacar atau nego gaji, background masing-masing orang berbeda. Maka cara pikir dan cara hidupnya juga berbeda. Oleh karena itu, solusi gue untuk masalah yang sama dengan si A, mungkin tampak gak masuk akal.
Adakalanya juga, orang bercerita sekedar ingin didengar. Ingin diperhatikan. Mungkin juga dikuatkan dengan pelukan. Nggak mau direspon: sabar yah. Atau: itu masalah sepele jangan dibesar2in.
Begitu usai cerita, lantas menanyakan pendapat gue. Sejauh ini gue selalu memaparkan informasi plus-minus jika lo ngambil keputusan ini. Ditambahi kalimat: misalnya gue mengalami hal yang sama, gue akan memilih jalan ini. Dengan segala resikonya.
Jika dikemudian hari omongan ngawur gue terbukti, boleh yah sekali2 gue bilang: i told u, askhole :D
Published with Blogger-droid v2.0.10

Sabtu, 13 April 2013

date, then run.

Saya pernah kok pacaran. Dua kali. Pertama saat menunggu pengumuman masuk UI. Saya bertemu pemuda ini di tengah gerimis. Ia menyodorkan tangannya, menyebutkan nama. Kelak, ia berucap, itu bukan pertemuan pertama kami. Ia mengingat saya ketika masih berseragam sd, upacara MOS di SMP kami.
Saya menikmati sosoknya yang berlari-lari mengejar bola. Sore itu matahari masih bersinar terik. Saya bisa membedakan ia dari bocah-bocah SMP lainnya. Ia memiliki tahi lalat di tengah leher belakang. Saya tergila-gila padanya. Padahal hanya tau nama dan wajah. Seisi sekolah tau, tapi saya memang tidak menyembunyikannya. Lantas di tahun kedua, kami duduk sekelas. Dan saya tetap menatapnya dari kejauhan.
Ia pun menghilang. Tahun ketiga dan tahun pertama di SMA kami tidak berjumpa. Saya (tidak) melupakannya. Dekat dengan satu, dua, tiga teman lelaki. Tidak ada yang seperti dia. Ketika berjumpa lagi, kami telah berubah. Namun rasa di hati saya tetap ada. Hingga akhirnya kami bersama untuk sekejap.
Saya ketakutan. Tak pernah menyerahkan hati untuk orang lain. Menatap padanya yang tak layak saya bawa ke rumah, berjumpa dengan keluarga. Saya ingin lari dari dia. Tapi ia bilang cinta. Saya tidak merasa apa-apa. Lalu kami berpisah. Ia marah. Saya (tidak) jera.
Lantas saya masuk UI. Menaruh kagum pada beberapa lelaki. Tapi tak pernah sampai hati. Hanya mengalihkan rasa kantuk ketika suntuk. Saya pergi bersama satu, dua, tiga lelaki. Si tangan gurita, si jago taekwondo, si bocah tampan dari kampus sebelah, si doraemon bertemu di kereta, si anak D3 panitia OKK. Sekali kencan, lantas saya bosan.
Buku menarik saya mendekat, tak ada lagi lelaki yang lekat. Kecuali satu. Kami bertukar pesan sepanjang tahun. Tapi duduk diam ketika bersapa, saling menatap, menerakan kenangan. Menilai, diakah orangnya?
Kadang saya menghilang, tenggelam dalam buku, mengurung diri dalam perpustakaan. Kadang ia menghilang, berpacu dengan basket dan futsal, atau melirik perempuan di kost sebelah. Kami sama-sama merasa kehilangan. Hingga akhirnya memutuskan bersama.
Saya jadi serakah, ingin dia untuk saya saja. Waktunya, tawanya, senyumnya, pikirannya, hatinya. Milik saya. Hanya saya. Ia tidak bisa. Kami berpisah. Saya marah. Ia gerah. Kami beda arah.
Saya tak lagi sama. Ia merenggut sebagian hati saya. Memporakporandakan jiwa saya. Saya berubah. Waktu kembali berjalan. Saya bertemu satu, dua, tiga orang. Tak pernah sama. Tak pernah bersama. Makan malam canggung, percakapan kering, tawa dibuat-buat. Ada lubang di hati saya yang tak bisa ditutup apapun.
Saya pikir begitu sampai saya mengenal uang. Dan kenikmatan yang ditawarkan ditiap lembar rupiah. Dan lezatnya hasil keringat yang dibayar tiap akhir bulan. Saya kecanduan. Ingin terus punya pekerjaan.
Suatu hari, saya menemukannya di sebuah studio di Menteng. Mendengar gelak tawa yang kelak saya rindui. Menatap sepasang mata yang mampu menenggelamkan saya. Memperhatikan tangan yang kelak saya genggam. Saya jatuh cinta. Ia (tidak) sempurna. Namun memilih untuk melupakannya.
Takdir menyimpan rahasia, bercanda dengan manusia sesuka hati. Satu, dua, tiga bulan kami bertemu lagi. Saya menjabat tangannya saat ia menyebutkan nama. Memulai pagi dengan empat huruf 'halo' darinya. Saya mabuk. Mabuk dia.
Kami bertukar kata, cerita, masa lalu, masa depan, kecintaan. Saya menikmati kecerdasannya, tawa renyahnya, ekspresi jenakanya, saya lupa diri. Ingin berlari kepelukannya. Tak peduli nyata atau dalam mimpi. Saya ingin memilikinya.
Kami hanya kebetulan berada di atas setapak yang sama. Tak pernah bersisian. Kadang berdekatan, saling menatap. Bertukar senyuman, impian, rencana masa depan. Tidak ada saya dalam masa depannya. Tidak ada dia dalam masa depan saya. Kadang kami bersentuhan, lalu masing-masing lari menjauh. Sekali saling merindukan. Kebanyakan menyembunyikan.
Satu, dua, tiga tahun. Saya pergi mengejar mimpi. Satu, dua, tiga bulan, saya menangis merinduinya. Lalu sadar membodohi diri. Tapi tetap tak mau berhenti. Saya meminta pada Tuhan, berikanlah ia pada saya. Sayangnya, saya tidak kenal Tuhan dia, dan dia berprasangka pada Tuhan saya. Kami tak pernah bersama.
Saya belum berhenti jatuh cinta pada (kenangan akan) dia. Pun ada satu, dua, tiga lelaki datang mendekat. Si anak baru lulus SMA, si pekerja lepas yang ternyata tetangga, siapa saja tak mampu mengalihkan saya dari dia.
Saya merasa ada yang salah. Saya menginginkan sesuatu (dia), tapi Tuhan menjauhkan saya dari dia. Tentu saja Tuhan tau, kami tidak baik untuk satu sama lain. Saya (masih) berusaha berdamai dengan kehendak Tuhan. Saat Ia membentangkan jarak, mengubah hati.
Saya pernah kok pacaran, dan saya tidak mendapat manfaat apapun darinya. Mungkin saya kurang mahir. Mungkin itu cara Tuhan menjaga saya. Karenanya, saya berterimakasih. Pada Tuhan dan mereka yang masing-masing menggenggam kepingan hati saya.
Published with Blogger-droid v2.0.10

Sabtu, 06 April 2013

bizzare love triangle


Oh tidak. Saya nggak bermaksud bicara soal hubungan rumit tiga orang yang terlibat cinta. Justru yang mau kita bahas adalah tentang cinta itu sendiri. Karena cinta itu simpel.
Ini berawal saat saya bersemedi dan membaca. Lalu muncul nama psikolog Robert Stenberg dengan Love Triangle Theory-nya. Selama ini love triangle favorite saya cuma versi Frente. Pak Robert menuliskan tiga kondisi cinta: commitment, passion, intimacy.
Cinta yang dimiliki pasangan lanjut usia mungkin adalah commitment. Mereka tetap bersama walaupun gairah dan kemesraan sudah jauh berkurang. Sesederhana karena mereka sudah komit untuk berbagi kehidupan.
Cinta anak-anak muda biasanya berdasarkan pada intimacy. Rasa ingin terus berdekatan dan gelitik penasaran mengenai sex life. Maka seks pranikah selalu menjadi fenomena gunung es di setiap peradaban.
Passion. Nggak habis pembahasan tentang kata ini. Cinta yang cuma punya unsur passion mungkin seperti tergila-gila pada idola. Dan buat saya, idola nggak selalu public figure. Seperti mengidolakan lelaki yang dapat ditemui sehari-hari.
Ketiga unsur cinta ini dapat berdiri sendiri dan dapat pula berpotongan. Commitment dan intimacy menghadirkan companionate love. Seperti kalimat yang sedang saya sukai sekarang ini, 'i love you, but im not in love with you'. Teman-teman yang suka merasa bosan dengan pasangan pacarannya mungkin karena sedang kehilangan gairah terhadap orang tersebut.
Romantic love hadir ketika intimacy berpotongan dengan passion. Bisa dibilang masa bulan madu. Saat kita sanggup menelepon hingga berjam-jam, chatting sampai jam 3 pagi, nggak tahan untuk gak menyentuh atau melihat kecintaannya. Kondisi yang paling sering kita alami.
Ketika commitment berpapasan dengan passion, hadirlah fatious love. Saya lebih suka menghubungkan kecintaan macam ini pada hobi atau pekerjaan. Saya sendiri belum bertemu atau mendengar pasangan yang selalu punya passion terhadap satu sama lain.
Cinta yang sempurna, consummate love, adalah saat ketiga kepingan itu bertumpuk jadi satu. Layaknya frase: im in love with the same person everyday. Jika itu diucapkan pasangan yang telah lama berkomitmen.
Karena saat intimacy hilang, akan muncul miskomunikasi. Ketika passion memudar, akan ada cinta yang lain. Commitment yang renggang, akan memicu perpisahan. Kalau ketiganya tidak untuk selamanya, apalah yang menjadi jaminan bagi kita untuk bisa berbagi hidup selamanya dengan pasangan?
Ada fotografer flamboyan yang menyuruh saya segera menikah. Alasannya karena saya sudah memasuki paruh akhir dari usia 20an. Saya berencana menikah, tentu saja. Kelak saya menikah, saya ingin yakin bukan menikah agar tidak sendirian, bukan menikah karena ingin berhubungan seks, bukan menikah karena kegilaan sementara.
Meanwhile, saya akan tetap menikmati hidup to the fullest. Saya manusia bahagia, jadi kalau menikah nanti saya harus lebih bahagia lagi. Dan saya tidak berencana mengikat diri sebelum menikah. Kalau kamu pacaran lebih lama dari wajib belajar tapi gak kunjung nikah, maaf jika saya bilang kamu melakukan hal yang sia-sia.
Memahami ini, mungkin yang saya rasakan sekarang adalah intimacy. Untunglah saya punya tuhan, masih ada yang menahan saya agar tidak have sex before marriage.
Published with Blogger-droid v2.0.10

Kamis, 04 April 2013

The Open Door

Mari bicara soal kesempatan. Pepatah lama mengatakan kesempatan gak datang dua kali. Tapi apa lantas kita ambil aja kesempatan apapun yang datang?

Beberapa hari belakangan ini gue bertemu dengan dua orang teman. Walau berbeda waktu, keduanya membahas hal yang sama: kesempatan. Gue langsung bilang: kesempatan itu dibuat, bukan ditunggu. Sementara mereka bilang gimana cara membuatnya?

Sedikit cerita, gue selalu suka pada seorang cowok, dan gue selalu mencari kesempatan untuk bertemu. Dari mulai sering ijin ke toilet biar bisa liat itu cowok di ruang kelasnya, datang telat supaya dihukum bareng, bawa dasi dua biar bisa dipinjemin ke dia. Pokoknya gue do anything to make him know my existence. Nah, gue nggak menunggu hari dimana kami tiba-tiba berpapasan dan ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Hasilnya adalah saya sempat bersama dengan cowok ini.

Terserahlah kalau gue dibilang agresif gak punya malu. Gue cuma merasa hidup ini terlalu pendek untuk menunggu-nunggu. Dasarnya gue emang keras kepala, gak cuma jaman puber aja ilmu mengejar kesempatan itu gue pake. Sekarang ini di separo akhir umur 20an, gue masih senang mengejar kesempatan. Terutama buat kerjaan.

Awalnya masih sama, membuat diri kita eksis. Poin-poin apa yang bisa kita jual dari diri kita? Kembangkan itu dan tonjolkan. Buat orang lain (terutama calon user/klien) aware akan kebisaan kita. Gue sendiri nggak bisa apa-apa. Cuma bisa sedikit nulis, sedikit styling, sedikit moto, dan yang lainnya juga sedikit-sedikit. Kalau lo bisa fokus akan talenta lo, itu akan lebih menjual. Gimana caranya bikin diri kita eksis,  sekarang udah gampang. Buka aja akun di semua jejaring sosial. Tebar jala, dapet ikan.

Setelah orang aware, mulailah menjalin networking. Untuk sebagian orang ini gampang, mereka yang terlahir dengan jiwa flamboyan dan senang bersosialisasi pasti punya banyak kenalan yang menguntungkan. Buat gue ini sulit. Gue termasuk orang yang praktis, cuma menghubungi kalau ada keperluan. Mungkin bakal muncul pikiran: 'lo ngehubungin kalau ada perlunya doang.' Tapi yah, biasanya gue menghubungi orang buat ngasih kerjaan. Jadi sama-sama untung lah.

Kalau udah punya networking, yah dikembangkan. Contoh kecil, gue sekarang mulai sering liputan konser untuk sebuah majalah dari pulau seberang setelah dikenalkan sama teman perantauan. Gue sering ikutan foto prewed setelah ikutan ngegarap foto prewed sepupu. Baru saja gue juga mendadak jadi stylist (yang tentu saja bikin gue kelagapan kalang-kabut).

Kesempatan itu nggak datang dengan sendirinya. Semua merupakan hasil dari kerja keras dan kesiapan kita. Kalau sekarang gue dikasih modal bikin majalah sendiri pun, bakal gue tolak, karena gue belum siap. Tapi gue sudah mulai bersiap-siap. Kesuksesan adalah kesempatan bertemu kesiapan.

Adalah seorang lelaki yang berkata: Saya diam di tempat, memberikan kesempatan.

Rabu, 03 April 2013

Minggu, 31 Maret 2013

I'm Here Always

I wish I was there the day you left
they said you said goodbye
I know I was harsh
I never ever meant to make you cry
But I was scared
I didn't realize the passion in your eyes
You had to follow your deams
And I was left to stand by


Cause I never wanted you to be broken
And I never said the words unspoken
Why didn't I say I'm sorry


It seemed like yesterday
Your hand was in mine
The words you said to me
They won't escape my mind
If I could go back in time
And just rewind that moment
I'd change everything
It wouldn't be the same
But I never got the chance


I Hear your voice it's saying
It's all ok
Take the pain away
I'm here always

- the adamant

Saya kira cocok sekali kalau tuan memberikan lagu ini pada saya. Karena i'm here always.

Bistronomy Jakarta












Jalan Ciranjang (Ciniru 1 No.2)
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Telp: (021) 739-6655