SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

you know i adore you


Seharian ini dengerin album Matchbox Twenty dari yang pertama sampe terbaru. Satu lagu ini stuck in my head.
Aslinya, sedetik setelah kejadian kemarin, gue punya satu nama yang ingin langsung gue telepon dan bercerita. Ingatan bahwa dia gak ingin mengangkat telepon gue mencegah gue menekan tombol dial. Saya dan dia sudah selesai. Dia dan kepalsuannya, saya dan kenaifan saya, tak pernah ada kami.
Sejak detik gue nggak jadi menekan tombol dial, ada rasa rindu menyelisip dan bertahan hingga kini.
Saya kangen sama fans mas Jared itu.
Saya berulang kali bilang selamat tinggal. Sesungguhnya yang tetap tinggal adalah rasa saya, apapun wujudnya. Saya gak ingin melepaskan dia.
Published with Blogger-droid v2.0.9