Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Walking Home

Sejak tarif ojek naik hingga 60%, saya memacu diri untuk kembali berjalan kaki saat berangkat dan pulang kerja. Kembali melintasi jalan-jalan sempit yang gelap dan sekali waktu ketemu hantu.

Dibandingkan dengan hantu, yang membuat saya resah adalah gerombolan anak-anak nongkrong. Mereka mengganggu orang lewat, terutama perempuan. Bahkan yang umurnya lebih tua dari mereka. Dari postur tubuh dan warna suara, saya bisa tau kalau mereka paling banter baru sma. Kebanyakan smp. Dengan rokok melinting di tangan.

Saya paling tidak bisa toleran dengan perokok di bawah umur. Satu lagi yang membuat saya resah adalah ditiap titik nongkrong pasti ada satu sampai tiga ada perempuan. Dengan kaos ketat dan hotpants. Membiarkan diri terekspos dan terjamah tangan lelaki di sekitarnya. Saya bertanya, mana orang tuanya?

Mau tak mau sejak kecil saya tinggal di lingkungan anak nongkrong ini. Seperti kebanyakan lapak, ada satu sosok yang dianggap tetua. Persis film gangster Hongkong yang sering saya tonton, tetua ini digandrungi remaja. Anak laki-laki ingin jadi seperti dia. Anak perempuan ingin dekat dengannya.

Suatu hari ketika masih berseragam merah putih, saya berpapasan dengannya dan kami jalan beriringan. Salahkan korteks otak saya kalau masih ingat bagaimana ia berujar pada temannya: gue nyari pechun, dapet yang kecil. Sambil merujuk pada saya.

Bertahun-tahun saya menjalani mimpi saya dan para anak nongkrong satu persatu menjadi seperti pendahulu mereka, pecundang. Termasuk si abang tetua. Kami masih sering berpapasan dan ia masih menegur saya untuk diajak nongkrong bareng. Saat bicara, masih selalu ada anak perempuan salah tingkah di bawah lengannya.

Kamu mungkin naik darah dan bilang apa salahnya pake kaos ketat dan hotpants? Tidak pernah salah. Benda tidak pernah salah. Yang salah adalah sikap kamu saat mengenakan pakaian tersebut. Yang membuat saya memandang resah anak-anak perempuan ini adalah mereka membungkus tubuh mereka tanpa harga diri. Orang boleh melihat, berimajinasi bahkan menyentuh tubuh mereka.

Yang membuat saya resah adalah gerombolan anak laki-laki yang mengasapi organ tubuh mereka sejak dini. Yang membuat saya resah adalah orang tua yang entah berada dimana, baik sosok maupun kepeduliannya.

Kamu mungkin berucap tidak semua orang senang sendirian seperti saya. Kamu harus tau, saya paling pintar melihat teman. Teman mana yang cukup dikenal dan teman mana yang harus disimpan. Ini off the record, saya sejak kecil sudah berjuang keras untuk keluar dari lingkungan ini. Kamu boleh bilang saya social climber, tapi tidak ada orang lain yang saya injak ketika saya mendaki.

Saya resah, bukan hanya karena anak nongkrong ini mengganggu pemandangan dan kenyamanan. Namun lebih kepada khawatir akan masa depan mereka. Jika mereka tidak berubah, saya bisa memberitau kamu sekarang, akan jadi apa anak-anak itu 10 tahun lagi. Itupun kalau mereka belum mati gara-gara overdosis.

Dan si abang tetua ini, kamu tidak akan tetap muda dengan terus nongkrong bareng anak-anak sma.

Comments