Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Apa Kabar, Bo?

 



Apa kabar, Bo? Kemarin saya ke Gramedia. Sanctuary saya pas jaman SD. Dulu waktu Hero Swalayan masih ada di Gatot Subroto. Biasanya saya ke sana setelah ngumpulin duit jajan seminggu dan bisa buat beli komik. Ngga seperti sekarang, dulu banyak komik yang sampul plastiknya terbuka, jadi saya puas-puasin baca sebelum akhirnya beli cuma satu. 

Jaman itu majalah Bobo tidak setipis sekarang. Apalagi pas edisi khusus, tebalnya bisa ngalahin kamus. Hahaha, bercanda ya, Bo. Bobo benar-benar teman bermain dan belajar saya, ada beberapa dongeng dunia yang sampai detik ini saya masih ingat. Ada juga dongeng lokal yang jadi favorit saya. Mungkin penulis Bobo sudah lupa, ada sebuah cerpen, yang memuat cerita ibu petani yang asik bekerja hingga anaknya kelaparan. Saya ingat ada syairnya: tingting gelinting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan.

Saya kemudian meniru syair tersebut dan dimarahin Mama. Beliau bilang, ngga pantas didenger orang. Oh ya, Bo. Mama adalah orang yang berjasa mengenalkan kita. Bisa jadi karena Mama juga hobi membaca. Kalau saya langganan Bobo, Mama langganan Nova. Ada masanya, hari Kamis kami tunggu karena Nova dan Bobo akan diantarkan ke rumah.

Itu bertahun-tahun yang lalu, Bo. Jauh sebelum pandemi, sebelum Mama pergi, bahkan sebelum saya berkuliah di UI. Masa-masa tidak ada masalah. Tidak ada PR yang menjadi momok, atau nilai yang harus dikejar, Masa-masa lari dari tidur siang, ketika dada tidak berdebar-debar karena cemas akan masa depan. Saat menjadi manusia dewasa yang mandiri masih berbentuk mimpi.

Bo, dari semua yang Bobo ajarkan, kenapa Bobo tidak memberi tahu kalau menjadi dewasa akan sesulit ini? Akan penuh patah hati dan air mata. Akan menangis diam-diam di balik bantal. Kenapa Bobo tidak membuat rubrik persiapan menjadi manusia dewasa. Menghadapi hari-hari yang tidak lagi membawa tawa. Sekarang belum terlambat, Bo. Walau pun Bobo sekarang tipis, masih menarik untuk dibaca. Beri tau teman Bobo yang lain, ya. Apa saja yang harus disiapkan agar menjadi orang dewasa yang bahagia.

Comments