Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

Local Bands I love.


Ini tahun berapa sih? Begitu pertanyaan mengusik otak saya. Karena hari ini saya memulainya dengan satu album Sesuatu yang Tertunda milik Padi. Jaman kelas satu SMA dulu, ini adalah kaset band lokal pertama yang saya beli. Masih inget banget belinya barengan kaset Matchbox Twenty. Entah kenapa waktu merasa bersalah karena nggak punya kaset band lokal. Jadi kebeli deh satu album Padi ini.

Ini sepertinya tahun-tahun terakhir MTv Indonesia bisa dinikmati mata dan telinga. Saya inget banget sempet naksir sama cowok yang ada di mv Sesuatu yang Indah ini. Dulu anak itu sekolah di SMA 17 Agustus, kebetulan tetangga ada yang sekolah di situ juga, jadi saya bisa punya nomornya dia deh. *dasar ganjen* Tapi lupa atuh, namanya siapa.

Dengerin satu album Padi ini, aromanya kayak udara sore pas nungguin anak kelas 3 pulang supaya bisa latihan Taekwondo bareng. Aromanya juga seperti dedaunan yang jatuh dari pohon-pohon di depan SMA saya. Seperti rasa sakit hati waktu tau sabam idola saya, naksirnya sama temen saya. Aromanya seperti pergantian dari anak-anak beranjak remaja.


Dan ada satu lelaki yang senyumnya selalu tergantung setiap otak saya memutar penggalan lagu Padi. Dia yang pertama menyukai saya bahkan ketika saya masih berseragam putih-biru, nggak suka pake rok kecuali seragam sekolah dan selalu bertingkah seakan saya adalah anak lelaki. Dia yang pertama bertanya pada mama untuk pergi bersama saya, memuji saya setinggi langit, dan menggenggam tangan saya kelak saya terjatuh. Dan saya yang seperti biasa selalu menyia-yiakan perhatian semacam itu, ketakutan karena tidak mengerti mengapa saya disukai? Anak lelaki itu, apa kabarnya sekarang?

Perjalanan melangkah mundur.Tautan pada Youtube membawa saya pada detik-detik main sepeda keliling kompleks sehabis pulang sekolah. Ketika lagu Dan milik Sheila On 7 pertama kali diputar. Rasanya penuh kebebasan, tidak ada masalah satu pun bahkan sekedar peer. Masa-masa lagu ini jadi soundtrack waktu bolos sekolah, lari mengejar biskota, menjelajah Blok M masih dengan seragam putih-biru. Ini juga lagu sendu waktu pertama kali merasa jatuh cinta. Berusaha mengubah seorang anak laki-laki agar bisa dibawa pulang berkenalan dengan orang tua. Apa kabar lelaki yang sempat mengisi lembaran jurnal harian saya selama 8 tahun itu?

Nggak banyak band lokal yang mampu menggerus playlist saya. Somehow saya merasa lebih into lirik-lirik berbahasa Inggris, Korea, Jepang atau Mandarin sekalian. Makanya sekali demen saya nggak bisa pindah ke lain hati. Termasuk dengan band yang hits pas saya lagi kerja sambilan waktu kuliah. Peterpan ini sebenarnya guilty pleasure buat saya. Lebih karena lirik dan suara Ariel bisa meresap sampai ke otak dan hati. Bikin merinding persis kalau lagi makan Maicih level 10.

Kebetulan, pas saya suka Ariel dkk, mereka belum sering muncul di tivi. Dan begitu mereka jadi band masyhur papan atas di Indonesia, saya merasa dikhianati. Huhuhu susah emang kalau suka band indie terus bandnya jadi mainstream.Dan saya lebih sakit hati lagi ketika Ariel naik daun di infotainment-infotainment. Harusnya tidak begitu, karena Ariel yang saya puja adalah orang paling lembut sedunia.

Berlibur sejenak itu, nggak perlu menenteng backpack sampai ke Jogja. Seperti sekarang ini, cukup memutar ulang sedikit lagu ketika kita bertumbuh. Maka, reaksi kimia di otak akan membawa aroma, tiupan angin, gesekan daun hingga senyuman dari kisah klasik yang mungkin terlupakan.