Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Kesuksesan yang Berbeda



Saya sering bertanya pada narasumber manapun, 'apa sih arti kesuksesan buat kalian/kamu?' Dan tidak pernah mendapat satu jawaban yang sama. Selalu beragam, selalu unik, selalu mengundang tanda tanya lain. Tidak sekalipun saya berpikir pertanyaan itu akan ditujukan kepada saya, dengan lebih spesifik. 'Sebagai muslimah, apa sih kesuksesan untuk mu? Dan bagaimana kamu meraihnya?'

Saya tidak menyukai pertanyaaan yang ditujukan pada saya. Saya tidak suka pertanyaan. Karena jawaban saya tidak akan sederhana. Jawaban saya akan mempertanyakan cara hidup saya selama ini. Iya, saya muslimah. Bukan karena terlahir ditengah keluarga yang kebetulan berIslam. Namun juga karena setiap kali selalu meneguhkan hati bahwa saya muslimah.

Sebagai muslimah, apa kesuksesan yang saya tuju? Apakah saya diharapkan menjawab ridho Allah? Atau saya boleh sedikit manusiawi dan bilang kesuksesan yang saya tuju hanyalah berupa kebahagiaan dan kecukupan. Karena saya tidak pernah merasa cukup. Ini bukan soal mengumpulkan materi secara melimpah. Apalagi soal bersolek di depan manusia lain. Saya hanya tidak pernah bisa merasa cukup akan diri saya dan apa yang sudah saya lakukan. Dan bagaimana saya bisa merasa bahagia jika saya tidak pernah merasakan bentuk kebahagiaan itu?

Masalahnya, seringkali ridho Allah itu adalah sesuatu yang abstrak. Bagaimana kamu tahu jalan hidupmu telah diridhoi? Jika sedang terpikir seperti itu, saya lantas mengingat satu postingan Facebook yang saya buat: balasan dari kebaikan adalah kebaikan lainnya. Ini saya artikan sebagai: jika ibadah saya diridhoi Allah, Dia akan menggerakan hati saya untuk terus beribadah lagi. Saat Allah menggerakan hati, maka sholat bukanlah perkara sulit.

Ada episode dalam hidup saya di mana saya membuat permusuhan dengan Allah, karena saya membuat permusuhan dengan Papa Mama. Namun cuma saya yang berada di pihak yang kalah. Ketika akhirnya saya melembutkan hati, menangis bermalam-malam dalam tidur, ketika akhirnya berteman kembali dengan Papa Mama, saya merasa Allah meridhoi saya. Karena segala rencana saya untuk Papa Mama dimudahkan dan diwujudkan.

Jadi mungkin kesuksesan saya bukanlah menjadi idola. Atau pemikir yang bijaksana. Atau harta yang tak ada habisnya. Mungkin kesuksesan saya adalah menundukkan hawa nafsu dan memaafkan orang-orang yang sadar atau tidak melukai saya, termasuk diri saya sendiri.

Mungkin kesuksesan saya adalah, saya mampu bertahan hidup.