Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Double Standart

Nggak, gue gak mau bahas soal feminisme. Ini sebenarnya mau berbagi soal standar gaya hidup. Di balik alam sadar kita, mungkin ada bagian otak yang menyadari kalau gaya hidup kita berubah, standarnya meningkat (atau menurun), dan ini secara langsung berpengaruh pada pola perilaku kita.
Jadi, sejak kebagian nulis review restoran bertahun-tahun lamanya, gue mulai sadar akan satu hal ini: gue semakin picky dalam hal tempat makan. Bahkan untuk urusan convenience store pun gue gak bisa asal dapet. Padahal dari kecil, emak gue udah mengakui kalau gue termasuk yang pilah pilih urusan makanan.
Gue sendiri baru menyadari kemarin selama di Jogja. Iya gue udah dapet banyak wanti-wanti supaya nyoba makan di angkringan dan lesehan. Tapi somehow gue gak bisa. Bahkan mendekatinya aja rasanya segan. Lalu yang paling klimaks, gue gak bisa makan gorengan abang-abang. Nyium baunya dan liat penampakannya pun bikin gue bergidik. Walau gue pernah merasakan enaknya makanan gak sehat itu.
Selain makanan, standar lain yang meningkat adalah outfit. Dulu gue cuma pake tas dan sepatu satu untuk selamanya. Kalau belum rusak parah gak bakal ganti. Sekarang, dengan banyaknya acara yang harus dihadiri, terpaksa punya sepatu ke pesta, sepatu hura-hura, sepatu berkebun, sepatu dan sepatu yang hanya dipakai gak sampe setahun sekali.

Lalu teman-teman. Entah bagaimana, sejak SD gue selalu bisa berempati dan sharing dengan teman-teman dari berbagai kalangan. Bertenggang rasa serta mengerti kalau nggak semua orang berpikiran sama dengan gue akan sebuah masalah. Makin gede, teman-teman gue makin sempit. Pergaulan luas, tapi homogen. Anak-anak media lifestyle. Otomatis bahasan dan gosip dan cara pandangnya akan masalah, mirip.
Ada masanya gue kangen berseloroh dengan abang-abang tukang potong rumput dan mbak mbak kantin di FISIP UI, abang tukang pempek yang mirip ariel, ob dan supir konyol di pantry ruko 2c. Segalanya yang membuat gue bisa melihat masalah nggak hanya dari satu sisi. Mendengarkan bagaimana tv sangat menghibur mereka, bagaimana ump 2,2 tetap terasa kurang, bagaimana agama sangat menjadi candu.
Gue yang selalu bilang bagian dari kaum proletar, kok gaya hidupnya nyaingin mereka yang terlahir borju. Padahal pendapatan masih di garis ump Jakarta. Tentu saja gue bisa menyalahkan semua itu pada pergaulan gue. Bahkan gue yang loner dan cenderung sociopath pun tetap terkungkung oleh bagaimana lingkungan menuntut gue untuk bersikap.
Gue kangen bisa melebur ke berbagai lapisan sosial. Masalahnya, gue waktu buat tidur aja kurang. Gimana mau bersosialisasi?