Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

Masih Passion

Kata passion masih overrated, menurut gue. Menjelang weekend kemarin, kata ini sering banget disebutkan. 'kalau dia passion sama kerjanya, pasti dia bakalan senang hati melakukannya' begitu diputar berulang-ulang.
Gue jadi mempertanyakan passion gue. Apakah gue punya atau nggak. Karena gue melakukan segalanya setengah hati. Gue juga kepikiran, mbak dan mas rapijali di seantero sudirman-thamrin, apakah punya passion dalam bekerja? Ada gitu orang yang passionnya jadi auditor? Kalau ada mohon gue dikenalkan.
Sejauh ini kalau bahas passion pasti yang keluar jenis pekerjaan kreatif. Biasanya fashion dan fotografi menempati urutan teratas. Jadi jurnalis juga katanya mengejar passion. Creative design menempati jajaran berikutnya. Logikanya, mereka yang bekerja dengan passion jarang mengeluhkan pekerjaannya.
Sayangnya, kita gak bekerja dengan passion doang. Masih ada bos dan rekan kerja serta klien. Masih ada benturan kepentingan dengan cita-cita. Kemarin sempet baca blog jurnalis yang menyesal pindah media karena ditempatkan di desk ekonomi. Padahal menurut dia passion-nya di lifestyle. Sempet denger juga ada stylist yang jadi ogah2an gathering bareng redaksi karena benturan dengan fashion editornya. Hingga berpengaruh pada kerjaan yang adalah passion-nya dia.
Kalau kerja pake passion itu, apakah gak akan menemui titik jenuh? Kalau kerja pake passion itu, apakah gak melihat nominal gaji?
Ada hal satir tentang ini. Bagaimana si A yang lulusan luar negeri, begitu kembali ke Jakarta rela digaji 2,5 juta. Alasannya, posisi yang ditawarkan adalah passionnya dia. Tanpa A sadari, ia jadi benchmark untuk kantor itu. Kalau lulusan luar aja mau digaji 2,5 juta, masa lo yang lulusan lokal mau minta di atas itu? Perusahaan gak mau tau kalau A masih ditanggung secara finansial sama keluarganya.
Beberapa orang lainnya, mengedepankan nominal gaji dibanding passion. Mereka berkata, dari gaji besar mereka baru bisa membiayai passionnya. Makanya mereka rela lembur tiap malam dan di hari sabtu.
Kalau mau jujur, masih ada hal lain yang wajib dipertimbangkan saat mencari pekerjaan. Passion boleh salah satunya. Nominal gaji, lokasi kantor, jobdesk dan lingkungan kerja jangan sampe disepelekan cuma demi passion.
Perlu ditelaah juga kalau passion nggak selalu berbanding lurus dengan bakat seseorang.
I still work with passion, for money, to living. But im kindda lost right now.
Published with Blogger-droid v2.0.10