Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Masih Passion

Kata passion masih overrated, menurut gue. Menjelang weekend kemarin, kata ini sering banget disebutkan. 'kalau dia passion sama kerjanya, pasti dia bakalan senang hati melakukannya' begitu diputar berulang-ulang.
Gue jadi mempertanyakan passion gue. Apakah gue punya atau nggak. Karena gue melakukan segalanya setengah hati. Gue juga kepikiran, mbak dan mas rapijali di seantero sudirman-thamrin, apakah punya passion dalam bekerja? Ada gitu orang yang passionnya jadi auditor? Kalau ada mohon gue dikenalkan.
Sejauh ini kalau bahas passion pasti yang keluar jenis pekerjaan kreatif. Biasanya fashion dan fotografi menempati urutan teratas. Jadi jurnalis juga katanya mengejar passion. Creative design menempati jajaran berikutnya. Logikanya, mereka yang bekerja dengan passion jarang mengeluhkan pekerjaannya.
Sayangnya, kita gak bekerja dengan passion doang. Masih ada bos dan rekan kerja serta klien. Masih ada benturan kepentingan dengan cita-cita. Kemarin sempet baca blog jurnalis yang menyesal pindah media karena ditempatkan di desk ekonomi. Padahal menurut dia passion-nya di lifestyle. Sempet denger juga ada stylist yang jadi ogah2an gathering bareng redaksi karena benturan dengan fashion editornya. Hingga berpengaruh pada kerjaan yang adalah passion-nya dia.
Kalau kerja pake passion itu, apakah gak akan menemui titik jenuh? Kalau kerja pake passion itu, apakah gak melihat nominal gaji?
Ada hal satir tentang ini. Bagaimana si A yang lulusan luar negeri, begitu kembali ke Jakarta rela digaji 2,5 juta. Alasannya, posisi yang ditawarkan adalah passionnya dia. Tanpa A sadari, ia jadi benchmark untuk kantor itu. Kalau lulusan luar aja mau digaji 2,5 juta, masa lo yang lulusan lokal mau minta di atas itu? Perusahaan gak mau tau kalau A masih ditanggung secara finansial sama keluarganya.
Beberapa orang lainnya, mengedepankan nominal gaji dibanding passion. Mereka berkata, dari gaji besar mereka baru bisa membiayai passionnya. Makanya mereka rela lembur tiap malam dan di hari sabtu.
Kalau mau jujur, masih ada hal lain yang wajib dipertimbangkan saat mencari pekerjaan. Passion boleh salah satunya. Nominal gaji, lokasi kantor, jobdesk dan lingkungan kerja jangan sampe disepelekan cuma demi passion.
Perlu ditelaah juga kalau passion nggak selalu berbanding lurus dengan bakat seseorang.
I still work with passion, for money, to living. But im kindda lost right now.
Published with Blogger-droid v2.0.10