Blue Collar Payday


Kalau tiap bulan lo masih nungguin tanggal-tanggal gajian, berarti status lo masih buruh. Sama kayak gue. Dan sebagai buruh, kita kudu ngerti juga soal ketenaga-kerjaan. Terutama kalau ada kaitannya sama upah. Hahaha.

Dua hari lalu waktu mengurus ini itu ke daerah Sudirman-Thamrin, gue menemukan beberapa titik demo buruh. Urusannya pasti tentang Upah Minimun Provinsi DKI Jakarta yang udah resmi naik jadi Rp 2.200.000. Awalnya gue nggak merasa hal itu ada urusannya sama gue. Karena upah gue jauh di atas UMP. Dan kalau UMP naik, maka upah golongan terendah di perusahaan gue diasumsikan bakal naik. Logikanya, kalau gaji Office Boy lo naik, gaji lo juga harusnya naik dong yaah. Masa dengan beban kerja yang lebih musingin dan tanggung jawab dateline yang semakin pagi, gaji lo beda 200-300 ribu dari OB. Menilik dari kerjaan Odah, Sayuti dan Mail, OB itu kerjanya banyakan nongkrong di pantry. :P

Gue nggak terlalu ngerti sih, soal UU Tenaga Kerja, jadi barusan gue neleponin seorang HR perusahaan asuransi. Apa yang bikin gue harus mencari tau soal ini? Karena biar pun bukan OB gue hobi nongkrong di pantry. Dan gue lumayan banyak menyerap kegalauan bapak bapak di sana mengenai kondisi keuangan mereka. Gue ngerasa sedikit banyak harus mengedukasi mereka how to bargain with company. Walaupun tiap tahun emang ada jaminan naik gaji minimal 10% yang harus diberikan perusahaan kepada karyawannya. Kenapa? karena diasumsikan tiap tahun terjadi inflasi, jika pendapatan kita nggak naik sementara inflasi naik, dari mana kita punya daya beli? Biarpun kerja pake passion, nggak mau dong dibayar pake passion juga?

Hal yang gue tanyain selanjutnya adalah apakah semua perusahaan wajib mengikuti kebijakan UMP ini? Sumber gue mengatakan Ya. Semua kantor yang diawali dengan PT CV dll diwajibkan mengaplikasikan UMP ini. Yang nggak wajib adalah UM/UKM. Lalu gimana kalau perusahaan nggak mengikutinya? Jujur aja sih kalau gue pengusaha gue akan bilang: gaji 2,2 gak sebanding sama beban kerja OB! Tapi sebagai buruh gue juga akan bilang: gaji 2,2 gak cukup buat hidup di Jakarta! terutama kalau lo seorang bapak dengan dua orang anak.

Gue yakin perusahaan gue, yang lalu dan yang akan, bakalan mengaplikasikan UMP ini. Yang gue nggak yakin adalah karyawan kelas menengah akan peduli pada hal ini. Seperti gue bilang, buat gue, naiknya UMP ini menguntungkan. Dan kalau nggak naik pun gaji gue tergolong cukup buat bergaul di Jakarta. Melalui observasi yang jeli, gue memantau kalau kantor yang itu sedang bersiap-siap menyesuaikan gaji karyawan dengan UMP. Kalau ada yang meratiin, perusahaan memangkas post post pengeluaran di sana dan di sini. Mungkin tujuannya adalah mempersiapkan kenaikan gaji di bulan Maret/April nanti. Iya banget, perusahaan mana pun nggak bisa serta merta naikin gaji begitu dapet selebaran UMP.

Gimana kalau lo masih karyawan kontrak? Atau belum setahun bekerja? Well, masih menurut sumber yang sama, status kontrak nggak berpengaruh terhadap UMP. Apakah lo karyawan kontrak atau lo karyawan tetap, gaji lo tetap harus mendapat penyesuaian terkait kenaikan UMP ini. Mungkin ada beberapa orang yang nggak pusing soal gaji, karena mereka kerja buat eksistensi. Buat gue sendiri, i work with passion, for money, to living.