Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

End of Manic Episodes

Siang tadi dia takut hidup. Takut segalanya. Dia mulai menangis entah karena apa. Aku terpukul melihatnya. Bukannya baru sekali dia begini, aku pun sudah berjaga-jaga jika kebahagiaannya usai. Aku harus berada di sampingnya. Meneguhkan kewarasannya, Menguatkan hatinya, berkata: ini hanya sementara, kamu akan tetap hidup dan bahagia.

Datangnya mendadak. Ketika suapan ketiga chocolate devil menghilang dalam mulut kecilnya, bersamaan sebuah email masuk di android miliknya. Dia meletakkan sendok dan cemberut. Aku tidak waspada, mengira email tadilah yang merusak nafsu makannya. Namun dia terus sakit dan menahan tangis. Aku mulai bertanya-tanya, setelah kegilaan sementara itu, inikah saatnya bergumul kembali ke dalam kelam?

Dia bergegas menuju sanctuary, menghubungi beberapa teman yang bisa dipercaya. Dia yakin kegilaannya sudah berakhir dan sekarang akan memasuki dunia kelam. Dia merasa tidak berarti. Berpikiran lebih baik mati. Hari esok tampak menyeramkan untuknya. Dan pekerjaan bukan lagi passion-nya. Aku berteriak mengingatkan. Ini hanya sementara, kamu akan tetap hidup dan bahagia.

Namun dia mulai menangis. Hatinya merasa sakit seperti yang sudah-sudah, lebih dari itu, otaknya tersiksa. Dia ingin ini dihentikan. Dia tidak berani hidup lagi. Rasanya seperti Dementor datang menghisap kebahagiaannya. Dia tau ini hanya sementara, aku tau dia takut menjalaninya. Hatinya sakit, rasa sesak ini, kapan akan pergi? Dia menderita, iya, itu terlihat jelas. Tapi aku tidak punya obatnya.

Biasanya, dia akan menyambut kekelaman itu dengan tangan terbuka. Kali ini tidak, aku yakin karena dia sangat menikmati kegilaan sementaranya di hari lalu. Maka dia tidak bersiap kembali menjadi kelam. Maka dia menangis entah karena apa. Aku harusnya tau, aku merasakan ini akan datang dalam waktu dekat. Aku pun tidak bersiap, sadar ikut menikmati kegilaannya kemarin sore.

Sekali lagi aku berucap, ini hanya sementara. Kamu akan tetap hidup dan bahagia. Semoga.