Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

End of Manic Episodes

Siang tadi dia takut hidup. Takut segalanya. Dia mulai menangis entah karena apa. Aku terpukul melihatnya. Bukannya baru sekali dia begini, aku pun sudah berjaga-jaga jika kebahagiaannya usai. Aku harus berada di sampingnya. Meneguhkan kewarasannya, Menguatkan hatinya, berkata: ini hanya sementara, kamu akan tetap hidup dan bahagia.

Datangnya mendadak. Ketika suapan ketiga chocolate devil menghilang dalam mulut kecilnya, bersamaan sebuah email masuk di android miliknya. Dia meletakkan sendok dan cemberut. Aku tidak waspada, mengira email tadilah yang merusak nafsu makannya. Namun dia terus sakit dan menahan tangis. Aku mulai bertanya-tanya, setelah kegilaan sementara itu, inikah saatnya bergumul kembali ke dalam kelam?

Dia bergegas menuju sanctuary, menghubungi beberapa teman yang bisa dipercaya. Dia yakin kegilaannya sudah berakhir dan sekarang akan memasuki dunia kelam. Dia merasa tidak berarti. Berpikiran lebih baik mati. Hari esok tampak menyeramkan untuknya. Dan pekerjaan bukan lagi passion-nya. Aku berteriak mengingatkan. Ini hanya sementara, kamu akan tetap hidup dan bahagia.

Namun dia mulai menangis. Hatinya merasa sakit seperti yang sudah-sudah, lebih dari itu, otaknya tersiksa. Dia ingin ini dihentikan. Dia tidak berani hidup lagi. Rasanya seperti Dementor datang menghisap kebahagiaannya. Dia tau ini hanya sementara, aku tau dia takut menjalaninya. Hatinya sakit, rasa sesak ini, kapan akan pergi? Dia menderita, iya, itu terlihat jelas. Tapi aku tidak punya obatnya.

Biasanya, dia akan menyambut kekelaman itu dengan tangan terbuka. Kali ini tidak, aku yakin karena dia sangat menikmati kegilaan sementaranya di hari lalu. Maka dia tidak bersiap kembali menjadi kelam. Maka dia menangis entah karena apa. Aku harusnya tau, aku merasakan ini akan datang dalam waktu dekat. Aku pun tidak bersiap, sadar ikut menikmati kegilaannya kemarin sore.

Sekali lagi aku berucap, ini hanya sementara. Kamu akan tetap hidup dan bahagia. Semoga.