Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

Why Being Thirty is So (Not) Different


If you're guessing, I'm not thirty today. It was months ago. Cuma kadang gue mikir, apalah bedanya umur udah kepala 3, tapi kelakuan masih kayak bocah. Kayaknya gak ada perubahan signifikan apakah gue 11 tahun, 21 tahun, atau 31 tahun. Gue masih pake kaos, jeans, dan sneaker. Gue masih nggak jajan sembarangan. Nggak ngerokok, nggak minum, gak main perempuan. Eh.

Sejak umur 22 tahun, gue tahu karir apa yang mau gue tempuh, gue pikir teman-teman akan selalu ada, karena mereka udah gue kurasi hingga the very best quality. Gue nggak takut apapun bahkan untuk pulang larut. Dianggap dewasa sungguh menyenangkan!

Tapi rupanya, society punya pandangan lain. Act your age masih menjadi banner saat tatapan mereka menelanjangi gue dari ujung kepala hingga kaki. Tua doang, kelakuan kayak bocah. Ini juga sering banget terlontar dari teman-teman lama yang gue simpan bak harta karun. Tekanan sosial untuk menikah, atau seenggaknya punya pacar, mulai datang lebih banyak dari biasa. Ingat umur, katanya.

Sepertinya, gue punya visualisasi yang berbeda tentang menjadi dewasa. Menjadi dewasa adalah bisa bertanggungjawab akan konsekuensi dari pilihannya. Bukan sekedar membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana hak dan kewajiban, menjadi dewasa berarti bebas mengatur diri sendiri. Poin itu sudah gue lakukan sejak umur 14 tahun ketika gue menentukan SMA yang berbeda dari pilihan Papa dan menanggung resiko jadi bukan anak pintar di sekolah.

Kata menikah selalu diangkat tiap kali orang sadar akan umur gue. Yang orang-orang nggak sadar, menikah bukanlah prioritas gue. Tentu saja gue selalu berdoa di setiap sujud agar Allah mendekatkan jodoh gue. Hanya saja, Allah tahu, gue nggak berdoa sepenuh hati. Allah tahu doa gue masih lebih kenceng saat doain Mama Papa atau saat minta pekerjaan yang lebih layak atau tentang diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah.

Karena tidak menikah bukan berarti tidak bahagia. Belum menikah bukan berarti ada 'masalah'. Jika teman-teman yang berisik ini paham akan agama, dan mendorong gue untuk menyempurnakan agama, mereka harusnya menawarkan diri untuk membantu. Bukan sekedar bertanya untuk basa basi memecahkan kesunyian. Masalah orang dari dulu sampe sekarang, cuma bisa komentar, nggak bisa bertindak.

Lagipula, teman-teman ini sudah melihat dari dulu bagaimana gue lebih senang parttime dari pada pacaran. Lebih senang ke perpus daripada berduaan. Dan biasanya gue jatuh cinta pada lelaki yang terlihat menikmati pekerjaannya, hobinya, mengejar cita-citanya. Tentu tidak ada yang salah kan?

Jika mereka memutuskan menikah dan bahagia, syukur alhamdulillah.
Jika mereka memutuskan berkarya dan bahagia, syukur alhamdulillah.
Jika mereka menikah dan berkarya, syukur alhamdulillah.
Jika mereka bahagia, syukur alhamdulillah.

Menjadi dewasa bukanlah menikah, punya anak, atau punya karir yang cemerlang. Menjadi dewasa berarti paham arti tanggung jawab. Menjadi dewasa berarti punya empati terhadap segala makhluk. Menjadi dewasa berarti punya tabungan berjuta-juta.

Nah, kalau yang terakhir itu, insya allah saya sudah dewasa.