Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Bacaan Sebelum Memulai Pergosipan


Suatu hari di redaksi majalah remaja ternama, ada art director baru. Sosok yang seketika menarik perhatian saya. Kami dekat lebih dari sekedar teman kerja. Kami bersama dan sedikit saling bercengkrama.

Tidak ada yang salah dengan itu sampai suatu ketika anak lantai 3 berucap pada saya. 'Kak, emang Kak Shin suka sama Mas Art Director? Soalnya anak-anak pada ngomongin kemarin di mobil. Ada Masnya juga tapi dia cuma senyum-senyum aja.
Ih, Kak, anak-anak ngomongnya jahat, tauk. Aku sampe bingung, kan anak-anak fashion itu deket kan sama kakak, suka kemana-mana bareng.'

Waw. Saya sudah sering patah hati, tapi kali ini lebih sedih. Karena orang yang saya pikir teman, justru mencaci. Kalau sudah begitu, lalu pada siapa saya harus bercerita?

Saya tentu saja mengonfirmasi kisah tadi ke Mas Art Director. Dan ia mengiyakan semua kata yang diucapkan si anak lantai 3. Ia berkata kalau semua itu adalah fakta. Lalu apa yang salah?

Tidak ada yang salah. Saya suka Mas Art Director. Dan Mas Art Director sering meluangkan waktu untuk saya. Apa urusannya dengan semua orang lain yang tidak tersangkut paut dengan kami?

Mas Art Director berkata, 'Jika mereka tahu hal yang sebenarnya, mereka akan membenci saya dan memuja Shinta.' Tapi tidak ada sesiapa yang tahu hal yang sebenarnya. Mereka hanya tahu hal yang ingin mereka lihat dan dengar.

Lalu riak pun membesar. Saya membatasi hubungan dengan mereka yang bergosip di belakang saya. Ah, saya tahu, bergosip benar-benar nikmat dan sulit dihindari. Peduli setan kalau objek yang dibicarakan menderita setengah mati.


Begitulah. Saya menjauh, mereka pun menjauh. Senior Promotion Staff bahkan menolak satu mobil dengan saya. Saya sampai dipanggil HRD karenanya. Editor saya meminta agar ia tidak lagi mengasuh rubrik bersama saya. Saya diserahkan ke editor lain. Rubrik saya dibongkar, hal-hal yang berkaitan dengan sesi foto dan apapun yang berhubungan dengan Mas Art Director dibabat habis.

Tapi Mas Art Director dan saya tetap bertukar kata. Saling senyum, saling bercerita. Saya tidak sekalipun terpikir untuk berpindah kerja. Bukan karena Mas Art Director, tapi karena saya menikmati pekerjaan saya. Dan sesiapa takkan bisa mengubah itu.

Saya memang sebebal itu. Sudah dijauhi, diabaikan, saling sindir saat rapat redaksi pun saya tidak peduli. Karena, jika seringan itu mereka berbicara di belakang saya, maka kami hanyalah sekedar kolega. Buat saya teman itu spesial. Saya memilihnya karena mempercayainya. Saya percaya jika ia akan bicara hal terburuk tentang saya, di depan saya.

Lalu buat apa sih cerita kadaluarsa diangkat lagi? Yah, tentu saja buat kamu, yang suka ngegosipin orang sampai yang bersangkutan merasa ingin mati. Buat saya, supaya ingat kalau digosipin itu nggak enak, makanya jangan sampe ketularan gosipin orang.

Apakah cerita ini valid? Tentu saja tidak. Cerita ini sudah saya modifikasi sedemikian rupa hingga kamu merasa kesalahan saya sangat minimal dalam masalah ini. Shinta cuma jatuh cinta pada orang yang salah. Cuma jatuh cinta yang berujung jadi dimusuhi.

Hal yang lucu adalah, saya dan Mas Art Director tetap berteman baik. Tapi si Mbak Senior Promotion Staff selalu berbibir tipis saat berpapasan dengan saya. Dan wajahnya semakin masam jika saya sok-sokan bersikap baik padanya. Dan saya sengaja bersikap baik padanya karena saya tau itu akan menganggunya. Kill them with kindness (yang pura-pura) ternyata benar adanya.

Kita bukanlah orang yang bebas dari kesalahan. Sama-sama suka pergosipan. Sama-sama tidak senang digosipkan. Yasudahlah. Itu terserah kalian. Saya belum mau bawa-bawa ayat Al Quran.

Tapi, sebelum mulai ajang pergosipan, ingat saja, setiap orang berjuang untuk hidup. Jika tidak bisa meringankannya, janganlah membuatnya semakin terasa pedih.

Sejujurnya, saya rindu sama Mbak Senior Promotion Staff dan anak-anak fashion melebihi saya rindu Mas Art Director.

Tapi bo'ong.