Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...
Affordable Coffee Shops: South Jakarta Vol.2
on
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Seringkali orang ke warung kopi nggak nyari kopi. Karena kopi bisa diseduh sendiri di rumah. Biasanya kalau gue demi menghibur hati, dengan obrolan ringan sampai absurd bareng pelanggan-pelanggan lain di bar tukang kopi. Dan sekali lagi, nongkrong di warung kopi nggak perlu mahal, karena tujuannya mau ngopi, bukan mau selfie. Btw tempat ngopi kece nggak selalu berbanding lurus dengan kopi oke.
Jadi meneruskan pencarian ngopi di bawah 30 ribu rupiah, berikut tempat ngopi lainnya yang nyaman di hati dan di dompet.
A post shared by Work Coffee (@workcoffeeindonesia) on
Jangan salah mengira tempat ini adalah Workroom Coffee di bilangan Cikini. Work Coffee termasuk anak baru di perkopian Jakarta. Tapi penyeduhnya orang-orang yang sudah punya nama. Sangat disayangkan sekali kalau kamu nggak mampir dan mencicipi kopi filter mereka. Segelas kopi filter dengan biji kopi lokal dibandrol seharga Rp 20.000 (gila ini nulisnya kayak jaman di sebuah majalah aja, gak asik ah).
Kalau melihat menunya, Work Coffee bisa dibilang bistro daripada warung kopi, karena mereka menyediakan menu-menu makanan kenyang dan enak dan murah! Oh maygawd, lo harus nyobain HONEY LEMON CHICKEN GRILL! Astaga nulisnya aja bikin gue lapar. Dan sumpah harganya masih murah! Saat artikel ini ditulis, harganya nggak lebih dari 40 ribu. Saudara-saudara, Anda harus mencobanya! Find Work Coffee
A post shared by setengahlima id (@setengahlima_coffee) on
Nggak kalah baru sama lokasi sebelumnya, warung kopi ini juga baru buka di bilangan Bangka. Jadi kalau nongkrong di Kemang nggak sesuai sama hati nurani dan rupiah yang kamu miliki, langsung aja lurus ke Bangka dan melipir ke mari.
Seperti kebanyakan kedai kopi indie (persis anak band taun 90an) Setengah Lima buka sore hari sampai menjelang pagi. Lokasinya di samping D'Besto dan tempat makanan gurih lainnya yang adalah berkah karena di Setengah Lima kadang nggak ada kokinya. Denger-denger kabar sih, tukang seduhnya jebolan Liberica. Tuh kan, daripada ke Liberica Kemang dan menderita di akhir bulan, mending ke mari, dah. Murah!
Segelas kopi di Setengah Lima harganya Rp 18.000 saja, tanpa pajak dan service. Tapi jangan salah, masnya baik, kok. Dan ganteng kata keponakan gua.
A post shared by Kolo.kopilokal (@kolo.kopilokal) on
Masih ngomongin tempat ngopi baru, kita lanjut ke daerah Panglima Polim. Heran, ini kenapa daerah jalur gue pulang kerja semua, ya? Ya wajar lah, namanya juga tempat berlindung dari kemacetan Jakarta. Misal hati gue nggak kuat buat pulang ke rumah, biasanya gue mampir ke sana.
Ko.Lo merupakan singkatan dari Kopi Lokal, walaupun pas gue ke sana adanya kopi Guatemala. Segelas kopi filter harganya 20 ribu kalau pake biji kopi lokal. Tapi karena gue pake biji kopi internasional, jadilah harganya 27 ribu. Kayaknya kalau tambah batu es, kena 2000 lagi deh. Setau gue, Ko.Lo ini dulunya tempat Head&Brew Coffee, nempel sama barbershop Asgar Badass! Dah kek Awkarin aje yekan?
Lokasi di pinggir jalan persis dengan tempat yang minim nggak memungkinkan Ko.Lo buat jadi persinggahan lama-lama. Kalau ditilik dari menu lainnya yang jadi juara, mungkin kedepannya Ko.Lo akan menyaingi kopi susu tetangga punya Tuku.