Coffee and Contemplation - 2

 


Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan.

Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik.

Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah.

Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung.

Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa.

Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan.

Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang, dan keinginan untuk tumbuh berkembang bersama, dihancurkan sosok-sosok yang mencari hal yang paling beneficial untuk dirinya sendiri.

Sementara itu, gue ditinggalkan dengan dollar yang terus naik dan saham plat merah yang terus terpuruk.

Dengan harga kopi manualan yang terus naik, sementara komoditasnya semakin jarang.

Walau pandemi Covid-19 sudah berlalu, ternyata kita masih di periode PPKM: Pemerintah Pingin Kita Menderita.

Comments