SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Senja di Kowloon


Minggu sore di pinggir Pulau Kowloon, lagi-lagi saya memisahkan diri dari rombongan. Entahlah, mungkin baterai sosialisasi saya mulai habis dan butuh diisi ulang dengan berjalan sendirian. Sebelum gelap di Star Avenue, saya sudah mengambil gambar beberapa bintang aksi Hong Kong yang jadi kesukaan saya jaman kecil. Kamu tahu, Andy Lau dari Kembalinya Pendekar Rajawali; Simon Yam, oom-oom favorit saya; Eric Tsang dengan senyumannya yang paling mempesona. Lalu juga beberapa aktor lainnya.

Tumbuh besar dengan film aksi Hong Kong sempat beberapa kali membuat saya kabur dari rumah. Dan saya beneran kabur dari rumah dalam artian bolos sekolah dan kabur main dingdong atau nongkrong di Gramedia Blok M. Rasanya kebebasan macam itu yang saya cari. Bisa seenaknya menjalani hidup tanpa perlu sekolah atau bekerja. Berkelahi jika ada yang mengganggu suasana hati dan punya pacar sekeren Ekin Cheng. Begitulah kehidupan dambaan saya saat SMP dulu. Semua karena film aksi Hong Kong yang diputar di tivi.

Star Avenue mulai ramai oleh turis yang hendak menyaksikan Symphony of Light. Saya tidak begitu antusias toh hari sebelumnya sudah lebih dulu menikmati permainan lampu kota Hong Kong dari ketinggian Victoria Peak. Saat asik bengong-bengong sok menikmati suasana Hong Kong, saya dihampiri penduduk Indonesia yang minta tolong diambilkan gambar. Sebelum mereka berbicara banyak, saya langsung memotong: ‘saya nggak bisa bahasa Jawa’. Baru kali ini saya menyesal nggak bisa ngomong bahasa daerah. Apa sebaiknya saya les bahasa daerah saja daripada bahasa asing?




Penantian menonton Symphony of Light masih panjang. Star Avenue mulai ramai dan saya khawatir tidak bisa menemukan teman perjalanan. Selama pengembaraan ini entah sudah berapa kali saya membuat mereka senewen karena selalu berkeliaran sendirian. Tapi mereka selalu bisa menemukan saya. Anak aneh berjalan celingukan dengan kamera di tangan, lebih gampang dicari ketimbang saya mencari mereka di tengah keramaian.

Dan pertunjukan pun dimulai. Dan selesai. Penantian dari jam 4 sore waktu Hong Kong berakhir dengan ‘Begitu doang? Kenapa blogger-blogger nulis panjang dan berbunga-bunga soal Symphony of Light?’. Ini sih gak jauh beda dengan permainan laser Trans TV yang saya lihat dari halaman belakang rumah. Sama-sama gratis. Kalau ada nilai plusnya, justru temaram senja di Star Avenue. Sumpah yah, di bagian mana Jakarta saya bisa menemukan ini? Jadi yah, saat kamu ke Hong Kong dan punya waktu lowong, boleh lah menunggu senja di sini.