Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Senja di Kowloon


Minggu sore di pinggir Pulau Kowloon, lagi-lagi saya memisahkan diri dari rombongan. Entahlah, mungkin baterai sosialisasi saya mulai habis dan butuh diisi ulang dengan berjalan sendirian. Sebelum gelap di Star Avenue, saya sudah mengambil gambar beberapa bintang aksi Hong Kong yang jadi kesukaan saya jaman kecil. Kamu tahu, Andy Lau dari Kembalinya Pendekar Rajawali; Simon Yam, oom-oom favorit saya; Eric Tsang dengan senyumannya yang paling mempesona. Lalu juga beberapa aktor lainnya.

Tumbuh besar dengan film aksi Hong Kong sempat beberapa kali membuat saya kabur dari rumah. Dan saya beneran kabur dari rumah dalam artian bolos sekolah dan kabur main dingdong atau nongkrong di Gramedia Blok M. Rasanya kebebasan macam itu yang saya cari. Bisa seenaknya menjalani hidup tanpa perlu sekolah atau bekerja. Berkelahi jika ada yang mengganggu suasana hati dan punya pacar sekeren Ekin Cheng. Begitulah kehidupan dambaan saya saat SMP dulu. Semua karena film aksi Hong Kong yang diputar di tivi.

Star Avenue mulai ramai oleh turis yang hendak menyaksikan Symphony of Light. Saya tidak begitu antusias toh hari sebelumnya sudah lebih dulu menikmati permainan lampu kota Hong Kong dari ketinggian Victoria Peak. Saat asik bengong-bengong sok menikmati suasana Hong Kong, saya dihampiri penduduk Indonesia yang minta tolong diambilkan gambar. Sebelum mereka berbicara banyak, saya langsung memotong: ‘saya nggak bisa bahasa Jawa’. Baru kali ini saya menyesal nggak bisa ngomong bahasa daerah. Apa sebaiknya saya les bahasa daerah saja daripada bahasa asing?




Penantian menonton Symphony of Light masih panjang. Star Avenue mulai ramai dan saya khawatir tidak bisa menemukan teman perjalanan. Selama pengembaraan ini entah sudah berapa kali saya membuat mereka senewen karena selalu berkeliaran sendirian. Tapi mereka selalu bisa menemukan saya. Anak aneh berjalan celingukan dengan kamera di tangan, lebih gampang dicari ketimbang saya mencari mereka di tengah keramaian.

Dan pertunjukan pun dimulai. Dan selesai. Penantian dari jam 4 sore waktu Hong Kong berakhir dengan ‘Begitu doang? Kenapa blogger-blogger nulis panjang dan berbunga-bunga soal Symphony of Light?’. Ini sih gak jauh beda dengan permainan laser Trans TV yang saya lihat dari halaman belakang rumah. Sama-sama gratis. Kalau ada nilai plusnya, justru temaram senja di Star Avenue. Sumpah yah, di bagian mana Jakarta saya bisa menemukan ini? Jadi yah, saat kamu ke Hong Kong dan punya waktu lowong, boleh lah menunggu senja di sini.