Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

All Eyes On You

I'm not good looking. Ini bukan masalah besar jika saja saya tidak terus terpapar dunia media. Kamu tau, bagaimana majalah fashion mana pun enggan memuat model-model plus-size. Maka ketika si fotografer flamboyan menyatakan saya harus memperbaiki penampilan, saya langsung defensif.

'Gue mau orang menilai gue bukan dari rupa, gaya, dan merek. Gue ingin orang melihat otak gue, hati gue dan tingkah laku.'

Ah, berapa umur saya? Masih saya bersikap naif terhadap dunia. Saya paham, tentu saja, bagaimana kita menilai penampilan dulu baru berkenalan. Melihat pada apa yang dikenakan, ponsel yang dibawa hingga kendaraan yang digunakan. Baru memutuskan apakah orang ini satu kelompok dengan kita?

Maka backpacker akan berkerumun dengan backpacker. Fotografer berdiri bersama fotografer. Pencari berita riuh bersama pencari berita. Dan model, berada bersama para model. Karena dalam diam kita selalu menyelaraskan diri agar bisa diterima.

Saya partikel bebas. Saya dapat menggamit ruang dimana pun. Namun tetap terasa canggung. Saya di sana, menenteng ransel bercengkrama dengan penduduk sekitar. Juga di sana, membidikkan kamera mencari angle yang tepat. Lebih sering di sana, menajamkan mata dan telinga untuk mendapat sedikit berita. Lalu ketika semua berlalu, saya tidak ada dimana-mana. Tidak mengenakan seragam yang sama.

Sekarang, ternyata tidak hanya penampilan yang harus diseragamkan, tapi juga pemikiran. Adalah wajar jika kita menganggap pemikiran dan pengalaman kita merupakan sesuatu yang valid dan karenanya patut dicontoh orang. Tidak masalah misalkan kita menyampaikannya dengan persuasif. Atau jika kamu dalam tataran yang lain, manipulatif.

Masalah muncul saat kita menempatkan orang lain dalam dunia kita yang kecil. Memaksa mereka memandang dari jendela kita. Sementara mereka tidak memiliki pengalaman yang sama dengan kita. Lebih bermasalah lagi jika kita melakukannya pada sosok-sosok tak berwajah di media sosial. Sungguh tidak sebanding dengan ketenangan hati diri sendiri.

Saya sudah lama berdamai dengan kalimat 'Nggak semua orang berpikir kayak elu, Shinta!'. Sudah tidak lagi memaksakan dunia ideal dari kacamata saya. Kita perlu berulang kali mengingat, setiap orang yang kita temui, nyata atau maya, memiliki pengalaman hidupnya masing-masing yang lantas membentuk pemikiran dan kepribadiannya. Berpegangan dengan ini, maka kamu tidak akan merasa ada perlunya untuk selalu mengoreksi. Kecuali kamu grammar nazi.