Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

The Raid 2: Berandal - Beyond The Odds


Ada dua hal yang saya belum pernah bayar untuk menikmatinya. Pertama nonton konser, dan nonton film Indonesia di bioskop. Kali ini kita berbicara perihal yang kedua. Satu lagi hal yang belum pernah saya lakukan di sini: review film.

Jam digital menunjukan pukul 23:58 begitu film The Raid 2: Berandal kelar tayang. Sebagian isi teater memberikan standing applaus. Saya tetap bertahan di bangku, jika kamu mencari apa yang diberikan The Raid, membunuh atau dibunuh, bukan di sini tempatnya. Saya tidak mencari itu. Saya datang menonton press screening ini untuk membuktikan satu hal, film ini bukan Infernal Affair.

Saya tergila-gila dengan film mafia Hongkong dan cina daratan. Sejak masa komik Young and Dangerous diangkat ke layar lebar dan diperankan Ekin Cheng. Saya penggemar berat trilogi Infernal Affair, hingga begitu Cok Simbara menyebut kata 'undercover' pada Iko, judul film Andy Lau-Tony Leung ini langsung maju di pikiran saya.

Kembali pada The Raid 2: Berandal, adegan dibuka dengan hamparan ladang tempat Donie Alamsyah dieksekusi dan dijatuhkan ke dalam lubang. Sedikit teringat pada adegan dalam Looper-nya JGL di sini. Lanjut adegan tawar menawar antara Iko dan Cok Simbara yang berujung dengan menyisakan hanya Iko sekeluarga dari The Raid.

Mulai dari sini, saya harus mengusir dua kata Infernal Affair dari otak saya. Iko menyusup dalam jaringan keluarga Tio Pakusadewo melalui pertemanan dalam penjara. Iko menjadi orang kepercayaan kedua. Oka Antara ternyata 'teman' Iko. Iko merasa bersalah karena membunuh rekan-rekan polisi. Cukup, ini masih merupakan formula dasar kalau mengangkat tema undercover. Jadi wajar terdapat kemiripan di sini.

Saya juga menunggu aksi Julie Estelle setelah melihat trailer-nya. Ekspresi itu, sungguh Kill Bill. Pun pasangan Julie, si pemukul nomor 4, seakan menghidupkan ekspresi Alan Luo dalam karakternya. Atau hanya karena cast-nya berwajah oriental? Oh, satu lagi, jangan tanya soal salju yang turun di Jakarta.

Saya belum pernah menonton film dan hanya menonton. Maka saya paham benar kalau kelemahan film-film Gareth Evans, ada pada storyline. Ia terputus tanpa penyelesaian. Bisa jadi karena fokus mereka bukan di sana. Atau karena kisah ini belum selesai. Lalu ada emosi yang kurang bisa terselami oleh Iko, terutama. Jangan dibandingkan dengan krisis identitas pada Tony Leung di Infernal Affair.

Bisa jadi film ini bukan untuk saya, karena durasi 2,5 jam termasuk cukup untuk menyampaikan storyline hingga tuntas. Tidak dengan The Raid 2: Berandal. Pun saya bisa merasakan bagaimana tidak sabarnya Arifin untuk naik tahta. Kisah ini terlalu nanggung buat saya. Ada banyak titik yang ingin diungkapkan membuat kisahnya meluas. Ini bukan lagi aksi undercover seorang polisi dalam menyikapi oknum polisi nakal.

Satu yang saya yakin, lelaki dengan perawakan seperti Arifin Putra nggak akan bertahan satu minggu saja dalam penjara betulan. Pasti udah diperkosa. Konsep penjaranya sendiri, beda dengan penjara lokal yang pernah saya datangi saat kuliah. Jika boleh disimpulkan saja, film ini sekedar meng-casting aktor lokal, syuting di SCBD dan Blok M, pakai bahasa Indonesia, tapi rasanya masih asing. Tidak Hongkong, tidak Hollywood, tidak juga Indonesia.

Tunggu, saya sebenarnya merasa bersalah karena tidak bisa mengapresiasi film lokal. Dan layaknya public menonton The Raid 2: Berandal, tentu demi darah dan aksi laga. Dua-duanya, bisa didapatkan sampai puas di sini. Cinematografi? Pecah. Tidak perlu dibandingkan dengan film mana pun. Pengambilan gambar, pemilihan momen dan detil secara visual, semua memanjakan mata saya. Dua hal inilah kunci 3 film Gareth Evans yang saya tonton. Aksi laga dan cinematografi.

Penampilan tiga aktor Jepang dan bagaimana Tio Pakusadewo total fasih berbahasa Jepang merupakan refreshment dalam film ini. Pertarungan puncak Iko dan Cecep, selagi masih menggunakan tangan kosong, adalah adegan favorit saya sejak di trailer. Wajah memar Arifin Putra, justru menghilangkan kesan sassy yang muncul tiap kali mendengar ia berdialog. Puluhan napi-sipir penjara berkelahi di lumpur, priceless.

Saya tidak pernah hanya menonton. Saya ikut larut dalam alur cerita dan emosi karakter. Dua itu, tidak saya temukan di The Raid 2: Berandal. Hanya adrenaline menggebu dan itikad mengeluarkan redbelt Taekwondo saya untuk mulai berlatih lagi.

Saya ingat dengan jelas Oom Tio meminta bagaimana jurnalis bisa mengkritisinya dengan baik, karena jurnalis luar pun memujinya. Apakah ini film aksi laga terbaik yang pernah saya lihat? Jelas, salah satu yang terbaik. Film ini bagus luar biasa, hanya saja, saya mencari lebih dari sekedar darah dan aksi laga.