Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

lluvia #26

Tik tok, menit berlalu. Aku masih merangkai barisan kata untuk dikirimkan sebelum subuh. Hi, Tuan, apa kabarmu? Sepertinya kemampuan menulisku ikut terpupus dengan berlalunya dirimu. Aku tidak lagi menangisi hujan bersama susu strawberry. Aku tidak lagi menatapi layar ponsel menunggu namamu menyala. Ah, tentu saja aku masih memujamu. Rasa itu tak akan lekang oleh waktu.

Tik tok, menengok ke belakang. Mengingat senyum jenakamu yang perlahan terhapus dari memori otak. Memanggil ingatan akan suaramu ketika tertawa lepas. Meresapi yang tersisa dari harum mu dan sentuhanmu. Memory fades, Tuan. Aku tidak heran kelak kita bisa bertemu tanpa takut menyakiti. Karena kata-kata mu tidak lagi menyakitiku. Dan hati ku, tidak terpaku padamu.

Tik tok, tik tok. Waktu berlari hingga menghilang. Adakah kamu terlupa tentang ku? Tentang kisah semu yang teruntai dalam kata di kotak kaca? Selamanya, mengingatmu akan memanggil senyuman menghias bibirku. Karena kamu luar biasa. Sayang aku tidak bisa berbuat yang sama kepadamu. Namun, di satu titik jenuh hidupmu, ingatlah aku, Tuan. Karena aku akan berusaha ada.

Manusia tumbuh lalu berpisah. Kenangan memudar menjadi legenda. Dan hari ini, kamu akan menatapi masa depan lebih siap lagi. Hei, Tuan, tersenyumlah. Senyum yang sama yang memikat hatiku. Tatapan lembut yang serupa sekejap kamu menatapku. Senyumlah dan berbahagialah. Biarkan kesedihanmu menjadi kekhawatiranku. Walau aku tau, kamu adalah manusia bahagia. Selamanya.

Adakah kamu teringat akan ku di hari bahagia ini, Tuan? :)