Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

lluvia #26

Tik tok, menit berlalu. Aku masih merangkai barisan kata untuk dikirimkan sebelum subuh. Hi, Tuan, apa kabarmu? Sepertinya kemampuan menulisku ikut terpupus dengan berlalunya dirimu. Aku tidak lagi menangisi hujan bersama susu strawberry. Aku tidak lagi menatapi layar ponsel menunggu namamu menyala. Ah, tentu saja aku masih memujamu. Rasa itu tak akan lekang oleh waktu.

Tik tok, menengok ke belakang. Mengingat senyum jenakamu yang perlahan terhapus dari memori otak. Memanggil ingatan akan suaramu ketika tertawa lepas. Meresapi yang tersisa dari harum mu dan sentuhanmu. Memory fades, Tuan. Aku tidak heran kelak kita bisa bertemu tanpa takut menyakiti. Karena kata-kata mu tidak lagi menyakitiku. Dan hati ku, tidak terpaku padamu.

Tik tok, tik tok. Waktu berlari hingga menghilang. Adakah kamu terlupa tentang ku? Tentang kisah semu yang teruntai dalam kata di kotak kaca? Selamanya, mengingatmu akan memanggil senyuman menghias bibirku. Karena kamu luar biasa. Sayang aku tidak bisa berbuat yang sama kepadamu. Namun, di satu titik jenuh hidupmu, ingatlah aku, Tuan. Karena aku akan berusaha ada.

Manusia tumbuh lalu berpisah. Kenangan memudar menjadi legenda. Dan hari ini, kamu akan menatapi masa depan lebih siap lagi. Hei, Tuan, tersenyumlah. Senyum yang sama yang memikat hatiku. Tatapan lembut yang serupa sekejap kamu menatapku. Senyumlah dan berbahagialah. Biarkan kesedihanmu menjadi kekhawatiranku. Walau aku tau, kamu adalah manusia bahagia. Selamanya.

Adakah kamu teringat akan ku di hari bahagia ini, Tuan? :)