Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Days in Jogja - Long Day

Ada masanya gue emang impulsif, seperti mendadak pergi ke Jogja dengan teman yang tidak akrab, kemudian pisah jalan karena perjalanan yang tanpa perencanaan. Lalu selepas Ashar di Mesjid Malioboro, andalan gue cuma smartphone dengan sinyal seadanya. Pertama cari penginapan, berhubung dua teman yang hendak dijumpai masih berhalangan bertemu. 

Pertanyaan pertama adalah penginapan murah dekat Malioboro? Ada banyak entri yang keluar menunjukkan lokasi di Sosrowijayan. Tapi Sosrowijayan itu seberapa jauh dari lokasi gue? Udah menjelang jam5 sore ketika gue keluar dari Mesjid. Temen gue udah wanti-wanti supaya nggak keabisan kamar. Entah kenapa gue santai aja. Keluar Mesjid, plang nama Sosrowijayan muncul tepat di sebrang gue. Melintasi Oxen, gue kembali bertanya, mau menyusuri Sosrowijayan sejauh apa?

Hingga di depan gang II ada mas-mas yang negur, 'cari penginapan?' gue langsung mengiyakan. 'berapa orang?' tanyanya lagi. 'satu orang yang dibawah 150an, dong, tolong dibantu.' Mas tadi tersenyum dan meminta gue mengikutinya. Akal sehat gue lagi liburan kayaknya. Tanpa pengamanan dan pikir panjang, langsung ngikut dia menjelajah gang II.


 

  
Tiga penginapan pertama berakhir nihil. Akhirnya kami belok ke gang yang lebih kecil lagi dan beruntung dapat satu kamar. Tanpa TV, kamar mandi luar, kipas angin dan matras muat dua orang, gue deal diharga 125rb. Mas tadi bilang, kalau lagi gak rame bisa lebih murah. Buat gue asal gak melebihi budget 150rb, gue sih terima-terima aja. Abis unpack barang, mas baik hati tadi masih ada dilobi. Bingung tuh gue mau ngasih tip apa nggak? Jumlahnya berapa? Ternyata pas gue udah sodorin, ditolak sama mas tersebut. Yah mau gimana lagi dong? Semoga mas sekeluarga dirahmati Allah.

Setelah Bali, kayaknya Jogja bakal jadi penjelajahan gue seorang diri. And still have no clue where to go. Yaudah deh, yang penting keluar dulu aja. Liat ada apa di Malioboro dan apa yang bisa di makan malam ini. Orang bilang, wisata kuliner is a must when visiting Jogja, enak dan murah! Keluar dari Sosrowijayan, yang keliatan cuma delman, becak dan batik. Mau jalan aja susah apalagi milih-milih lokasi makanan. Sebelumnya gue juga udah dipesenin sama mas baik tadi kalau makan di lesehan Malioboro itu mahal. Lagian pas gue telusuri, menunya kurang menarik kok. Lanjut jalan terus ikutin arus manusia-manusia yang entah mencari apa, akhirnya gue sampai di titik nol kilometer.

I really wasnt thinking, just try to enjoy what i have on this unplanning trip. I see people, I sense the wind, things I dont have time to do while in Jakarta. I freeze my time and sit for a while. Not thinking, just enjoying.