Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Over Rice

tomyum chicken
fried red bean ice cream

honeyglazed chicken with garlic rice

iced berry tea


mango salad
Citywalk Sudirman after office hours nggak pernah sepi. Makanya agak sulit juga nyari tempat duduk kosong di sekian banyak restoran di sini. Setelah dua kali mengelilingi dua lantai, bolak balik buku menu di tiap depan restoran, gue memutuskan mencoba Over Rice. They got me at Fried Red Bean Ice Cream. Well, gue adalah fans berat red bean ice cream. Tapi digoreng? Bener-bener kudu nyoba ini. Jadilah gue masuk dan menyapa waitress-nya.
Seperti semua restoran sekarang ini, Over Rice didominasi interior casual rustic. Tonjolan kayu dan dinding bata yang seakan nggak dipoles menjadi dekorasi Over Rice, lengkap dengan menu of the day yang ditulis dengan kapur. Posisi seat-nya juga seperti kebanyakan restoran, sofa di sisi-sisi dinding dan kursi-kursi di tengah ruangan.
Waitress yang melayani gue agak clumsy, dia kembali dengan membawa semangkuk es serut kacang merah. Gue jelas memesan yang digoreng. Nggak berapa lama, ia kembali lagi, kali ini dengan pesanan yang tepat. Si Fried Red Bean Ice Cream disajikan dalam piring kotak, sesuatu yang mirip patty adalah kacang merah yang udah dibalur tepung dan digoreng. Di atasnya ada satu scoop es vanilla dihias susu cokelat. Rasanya gurih, sensasi panas berpadu dingin bikin lidah nagih lagi dan lagi.
Menu berikutnya adalah Mango Salad. Awalnya gue pikir ini sambel mangga yang luar biasa enak itu. Ternyata salah, ini lebih dari itu. Kalau di sambel mangga perbandingan mangga : sambel adalah 1: 2, ini kebalikannya. Mangganya agak mengkel diiris mirip french fries, disiram sambel rujak dengan tambahan irisan bawang merah. Di bawahnya dilapisi selada yang sebenernya bisa dimakan, tapi nggak gue makan. Diirisan-irisan terakhir, rasa bawang merahnya mengalahkan rasa mangga.
Karena Over Rice mengklaim dirinya sebagai restoran Thai, gue pun mencoba Tomyum dengan isian ayam. Yep, another first time. Rasanya nggak beda dari tomyum lainnya, kecuali sedikit rasa manis di ujung lidah saat mencicipi kuahnya. Main course Honeyglazed with Garlic Rice juga nggak istimewa kalau saja si garlic rice nggak meninggalkan rasa hangat di lidah. Over rice punya dua pilihan rice lainnya selain garlic rice. Buat nambah varian nasi ini, gue kena charge 2000 rupiah. Menemani semua sajian ini, ada Iced Berry Tea yang terlalu manis, hingga gue harus menambah es batu lagi ke dalamnya.
Over Rice juga ngasih beberapa lembar vocer Rp 5000 yang bisa gue pake lagi buat beli es kacang merah goreng di lain waktu.