SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Nadya Sabran: first hijaber in kpop world





Hijabellove penggemar Korean pop nggak boleh ketinggalan mengenal Nadya Sabran. Karena, Nadya punya banyak cerita soal pengalamannya manggung bareng Kpop Idol, langsung di Korea Selatan! Mahasiswa Hubungan International, UIN Jakarta ini juga punya banyak project seru lainnya, loh.

Hallo Nadya, cerita dong gimana bisa satu stage dengan Kpop Idol? Aku tuh baru suka Kpop di tahun 2009, dan seperti semua orang yang ngefans pada suatu hal, kita jadi ingin terlibat dan memahami lebih banyak. Dari situ mulai ada keinginan untuk bisa pergi ke Korea Selatan, suka nge-cover lagu-lagu di Youtube juga. Sampai akhirnya coba-coba ikut kompetisi. Itu pun nggak langsung menang, waktu 2NE1 Global Cover Contest 2011 cuma masuk 40 besar. Tahun depannya pas Big Bang Global Cover Contest 2012, baru deh menang juara pertama sing cover.

Ada kendala nggak ketika kamu manggung dan mengenakan hijab? Awalnya ada perasaan takut, karena akibat kejadian 9/11, di Korea Selatan juga sempat terjadi pembakaran Al Quran. Alhamdulillah, semua pihak di Kpop World Festival sangat membantu aku. Sebenernya dari mereka menyediakan make up dan hair do. Tapi karena aku berhijab jadi cuma make up aja. Serunya lagi, waktu aku di make-up itu, cowok-cowok pada nurut saat aku minta keluar ruangan. Dari situ aku ngerasain yang namanya toleransi beragama.

Berencana untuk jadi musisi professional? Untuk saat ini nggak ada. Kebetulan aku suka nyanyi, kalau ada yang suka karya aku, yuk kita sama-sama berkreasi.

Nah, Kpop Idol kan stylish banget tuh, gimana pendapat kamu tentang muslimah yang makin fashionable sekarang? There’s always good news and bad news. Good news-nya, ini bikin banyak orang lebih tertarik pada hijab, dan pandangan kalau hijaber itu kaku perlahan udah nggak ada lagi. The bad news is, sebagai hijaber kita juga harus tanamkan kalau hijab bukan sekedar trend aja. Mau gaya seperti apapun, berhijab itu kewajiban.

Ada nggak sosok muslimah yang kamu jadikan panutan? It should be my mom. Beliau ngajarin aku kalau beragama itu nggak cuma soal teori, tapi juga gimana kita menerapkannya ke dalam kehidupan.

Selanjutnya mau bikin project apalagi nih? Aku nggak pernah sendirian kalau bikin project, kayak kemarin juga dibantu Aziz, Iman, atau Marwah. Aku tau banget ada banyak orang yang ngefans sama Kpop, jadi sekarang aku mau bikin professional fangirling.

found her: nadyasabran.com
Teks dan foto: Shinta
for Hijabella magazine vol. 2