Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

lluvia #19

'Aku bisa membantumu melupakan dia,' ujar seorang pemuda yang sedari tadi duduk di depanku. Kening ku berkerut mendengarnya. Siapa yang mau dilupakan? Ah, yah. tentu saja, lelaki itu. Kecintaanku.

'Sudah terlalu lama kamu menatapi hujan, menyimpan banyak pertanyaan tanpa jawaban. Pesan-pesan tak terbalas. Tidak bisakah kamu melihat padaku?' ucapnya lagi. Deja vu. Rasanya belum lama aku bertemu pemuda lain yang mengatakan sanggup mengusir lelaki itu dari hatiku, dari otakku. Tidak, ia tidak berhasil, meninggalkanku dalam kelabu.

'Tidak,' jawabku. 'Bukan karena lelaki itu, tapi karena aku tidak bisa bersama mu. Aku tidak bisa memalsukan diri,' seperti lelaki itu, sambungku dalam hati. 'Jika aku menginginkanmu, aku hanya menginginkanmu. Segalanya, waktu, pikiran, perhatian mu adalah milik ku. Kamu tidak akan tahan dengan aku yang seperti itu.'

'Aku bisa tahan,' ia bersikeras.

'Tidak. Aku yang tidak tahan, aku tidak menyukai versi diriku yang itu. Membuatku menderita tapi tidak bisa lepas,' tandasku.

'Seperti sekarang?'

'Seperti sekarang.'

Kursi yang ia duduki bergeser saat ia bangkit. 'Kenapa tidak kau biarkan dirimu mencoba mencari bahagia?' tanyanya seraya berlalu pergi.

'Karena aku meletakkan kebahagiaanku di tangan yang salah. Sebuah tangan yang tampak begitu mulia hingga aku memujanya. Tangan yang dalam waktu mudanya pernah memelukku erat, menggenggamku kuat, dan menyapukan belaian di atas pipiku,' desahku walau pemuda itu tak lagi mendengar.

Aku masih bisa melihatnya berdiri di teras depan, menatapi hujan sebelum akhirnya ia berlari. Membiarkan hujan membasuh sakit di hatinya. Aku bertahan di kursi ku, berharap entah apa, pada lelaki yang menyakiti hati.