Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Keep Moving On

'Gue nggak sanggup, gue nggak mau,' begitu kadang gue berpikir saat harus menyelesaikan masalah. Karena, sering kali masalah nggak bisa diselesaikan. Hubungan nggak bisa diperbaiki. Namun tetap ada beberapa hal yang patut diperjuangkan hingga akhir. Masalahnya, gue sanggup atau nggak? Mau atau nggak?

Ternyata nih, ada ukuran dari kemampuan kita mengatasi masalah, mengontrol situasi. Urusan IQ, EQ, SQ ternyata belum cukup buat mendefinisikan diri kita. Sepagian tadi gue tertegun mempelajari tentang AQ, Adversity Quotient. Ini merupakan ukuran sejauh mana kita bisa menghadapi tantangan dan perubahan. Istilahnya sih, kita nih gampang menyerah apa kagak?

AQ bukan hal baru. Hasil riset gue menunjukkan tahun 2008-1998. Tapi gue juga nggak ngerti kenapa baru denger sekarang. Kalau IQ ukurannya pake angka, AQ cuma punya tiga ukuran. Quitter; orang-orang yang udah kalah sebelum perang. Udah mundur sebelum mulai. Yang berkata pada diri mereka 'gue nggak sanggup' kemudian berhenti. Sialnya, mereka punya pendukung yang juga quitter. Lalu kita dengan enteng melabeli mereka sebagai loser, atau sampah masyarakat. Alih-alih membantu mereka menemukan fokusnya.

Camper; mereka yang menjalani segala sesuatunya cuma demi mencari kenyamanan. Mereka nggak berencana melihat puncak. Ibaratnya naik gunung Semeru, ini deh orang-orang yang memutuskan sampe Ranu Kumbolo aja. Buka kemah, menikmati bintang-bintang, main gitar, bikin api unggun. Dan pulang keesokkan harinya. Tanpa melihat puncak Semeru.  Ini juga kita yang menolak mengambil resiko lebih, menolak bekerja lebih keras, menolak melakukan hal yang lebih dari biasa, karena kita sudah cukup merasa nyaman dengan kondisi saat ini.

Terakhir ada Climber; gue melihat, ini mungkin orang-orang yang kita anggap inspiratif. Mereka yang mengecap manisnya sukses di usia muda. Satu kesamaan mereka, punya tujuan yang konkrit, punya networking yang cukup untuk menjual idenya, punya lingkungan yang supporting, dan punya hati yang lapang. Karena meraka nggak selalu langsung berhasil. Orang-orang ini yang kadang kita pandang dengan sinis bercampur kagum.

Dari semua bahan yang gue kumpulin, contoh yang diambil selalu tentang bagaimana seorang pendaki menaklukan gunung. Jujur sih, kalau contohnya itu, gue termasuk golongan terakhir. Karena gue selalu mendaki lebih tinggi, berjalan lebih jauh dan lebih cepat, dengan perbekalan yang lebih efektif. Tapi begitu gue turun gunung dan bermasyarakat, gue entah jadi Camper atau Climber. Yang pasti gue yakin gue bukan quitter.

Dan sesungguhnya, yang membedakan Camper dan Climber adalah kesabaran. Bagaimana kita tetap sabar untuk terus berusaha, berjalan walau perlahan, membuat perubahan walau kecil. Karena puncak yang sesungguhnya bisa jadi bukan harta, jabatan atau kekuasaan. Kalau begini sih, gue percaya kita semua adalah Climber. Asal kita punya mimpi dan bertekad menjadikannya kenyataan.

Just like Tyra Banks said, never complain, never explain. Just go for it.