Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

JRL 2013 - Suicidal Tendencies


hellow Nico Santora
Tunggu, kenapa foto Suicidal Tendencies cuma dua? Begini ceritanya. Jadi tuh gue nggak tau ini band kayak apa. Dengan belagunya, gue gak masuk media pit. Melainkan diri di depan pager pembatas depan panggung. Nggak tau juga sih kenapa. Oh, mungkin karena gue pake lensa 50mm dan media pit rasanya terlalu dekat ke panggung.

Lalu ngobrol dengan seorang mas-mas.
S: Suka banget sama ST, mas?
M: Wuih saya dateng ke sini karena mereka mbak.
S: Ooh, udah berapa lama nunggu? (nunggu yg dimaksud adalah berdiri di depan panggung Indosat main stage)
M: Udah dua puluh tahun! (berkata dengan mantap)

Setelah kumandang lagu Indonesia Raya yang tetap diteriakan Endonesa Raya, si drummer ST masuk panggung. Jejeritan gila-gilaan cowok-cowok dewasa menggelegar di belakang gue. Gue kalem. Mike Muir masuk, Nico Santora beraksi dengan gitarnya (cuma ini yang gue tunggu-tunggu sejak preskon), dorongan dari penonton belakang melesakan gue mepet ke pager pembatas. Sekali, dua kali, berkali-kali. gue menyelamatkan kamera dengan memasukkannya ke media pit. Dan menggapai-gapai mas-mas sekuriti. "MAS, TOLONG GUE HAMPIR MATI!"

Dengan sigap mas sekuriti membuat ruang antara gue dan gerombolan wall of death. Mampus, namanya aja bikin gue ngeri dan memikirkan kecenderungan bunuh diri. Mas sekuriti masih jagain gue sampe Mike Muir berhenti nyanyi untuk berdialog dengan fansnya yang sudah menunggu selama dua puluh tahun. Diam-diam (sambil mengumpat) gue menerobos meninggalkan kerumunan wall of death.