Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

JRL 2013 - Suicidal Tendencies


hellow Nico Santora
Tunggu, kenapa foto Suicidal Tendencies cuma dua? Begini ceritanya. Jadi tuh gue nggak tau ini band kayak apa. Dengan belagunya, gue gak masuk media pit. Melainkan diri di depan pager pembatas depan panggung. Nggak tau juga sih kenapa. Oh, mungkin karena gue pake lensa 50mm dan media pit rasanya terlalu dekat ke panggung.

Lalu ngobrol dengan seorang mas-mas.
S: Suka banget sama ST, mas?
M: Wuih saya dateng ke sini karena mereka mbak.
S: Ooh, udah berapa lama nunggu? (nunggu yg dimaksud adalah berdiri di depan panggung Indosat main stage)
M: Udah dua puluh tahun! (berkata dengan mantap)

Setelah kumandang lagu Indonesia Raya yang tetap diteriakan Endonesa Raya, si drummer ST masuk panggung. Jejeritan gila-gilaan cowok-cowok dewasa menggelegar di belakang gue. Gue kalem. Mike Muir masuk, Nico Santora beraksi dengan gitarnya (cuma ini yang gue tunggu-tunggu sejak preskon), dorongan dari penonton belakang melesakan gue mepet ke pager pembatas. Sekali, dua kali, berkali-kali. gue menyelamatkan kamera dengan memasukkannya ke media pit. Dan menggapai-gapai mas-mas sekuriti. "MAS, TOLONG GUE HAMPIR MATI!"

Dengan sigap mas sekuriti membuat ruang antara gue dan gerombolan wall of death. Mampus, namanya aja bikin gue ngeri dan memikirkan kecenderungan bunuh diri. Mas sekuriti masih jagain gue sampe Mike Muir berhenti nyanyi untuk berdialog dengan fansnya yang sudah menunggu selama dua puluh tahun. Diam-diam (sambil mengumpat) gue menerobos meninggalkan kerumunan wall of death.