Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

focus

Gue termasuk well-planned person. Walau kadang eksekusinya sesuka hati. Jadi sejak mulai tertarik dengan kamera dslr, gue jadi kehilangan fokus. Atau mungkin jauh sebelum itu jugaan gue udah gak fokus?
Gue rasa sih normal kalau manusia itu banyak maunya. Kabarnya kita nggak akan merasa puas hingga mulut dipenuhi tanah alias meninggal dunia. Banyak mau nggak masalah lah yah, asal nggak nyusahin siapa pun termasuk diri sendiri.
Kalau dirunut, mungkin keinginan gue cuma satu: belajar. Nah, karena banyak hal yang mengundang rasa ingin tau gue, jadinya banyak yang mau gue pelajari.
Paling pertama, gue mau belajar gitar/gitarlele. Jaman smp sempet belajar, begitu bisa satu lagunya so7, gue berenti. Kapok jari gue pada kapalan. Aduuuh sakiit. Aslinya gue pengen bisa main gitar buat modal ngamen. Hahaha, kadang enak aja ngeliat pengamen cuma gonjrang-gonjreng dapet seceng.
Lalu mau belajar fotografi. Walaupun foto gue sudah tercetak di beberapa media nasional, gue masih merasa kurang mumpuni. Di fotografi sendiri, ada banyak kekhususan. Dan gue cuma bisa foto jurnalisme. Ini lebih disebabkan gue kurang punya taste. Gue lebih seneng foto yang bisa mendukung tulisan gue.
Sadar foto gue biasa aja, gue pengen bisa digital imaging. Kemaren-kemaren sih gue freelance di studio foto dan dipaksa ngedit foto. Terus gue meringis. Sampe sekarang cuma bisa nge-crop karena rajin ngoleksi foto korean idol. Niatnya mau belajar di RGBstudio di jalan Benda. Atau sekalian ikut short course di IKJ.
Gue juga mau belajar ilmu psikologi anak dan remaja. Soalnya sudah kesepakatan umum kalau umur psikologis gue itu 15 tahun. Jadi gue pengen lebih banyak belajar soal itu. Ini juga nyambung sama cita-cita gue jadi guru. Sempet kepikiran juga kuliah lagi di UNJ supaya bisa jadi bu guru.
Karena sering bikin photoshoot dan kesulitan cari make up artist, gue pun kepengen belajar make up. Tapi ini sih mentok dimodal banget. Belum lagi ngumpulin printilan alat make up. Urgh mau banget beli brush di body shop itu. Huhuhu.
Belakangan gue juga suka bikin baju. Tapi bukan proses menjahitnya. Biasanya gue iseng gambar2, mukanya sih anime, tapi bajunya lumayan wearable laah. Gambar ini gue bawa ke tukang jahit deket kuburan. Terus berembuk, dari mulai pola sampe bahan. Abis itu bahannya gue cari sendiri, ke pasar kaen sekalian beli kancing dan benang. Pasti asik nih kalau gue bisa jahit sendiri.
Tuh kan, banyak banget yang mau gue pelajari. Giliran ada duitnya, gue gak ada waktu. Sekarang, pas ada waktunya, gue gak punya duit. Ternyata benar, yang kita jual untuk mewujudkan impian orang lain adalah waktu kita. Makanya, jangan dijual murah. Dan lebih penting lagi, gue harus fokus sama satu/dua kegiatan. Supaya bisa keliatan hasilnya.
Sekarang gue ngapain dulu yah?
Published with Blogger-droid v2.0.10