Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

it's not you, it's me

Kalimat itu jamak terdengar saat ingin menyelesaikan hubungan. It's not you, it's me. Sebelum ini, gue menganggapnya kalimat omong kosong. Seperti halnya 'kita udah nggak cocok lagi' 'aku lagi kepingin semdiri'.
Kalau mau berpikiran terbuka, yah ini memang tentang pihak yang angkat bicara itu. Makanya, nggak seharusnya ada jawaban what did i do wrong? Karena memang nggak ada yang salah, hanya saja ada satu pihak dalam hubungan tersebut yang tidak lagi terpuaskan/merasa nyaman.
It's not you, it's me. Suatu hari di perguruan tinggi, gue nggak ngerti kenapa ada satu teman yang nggak suka sama anak baru. Padahal secara personal si anak baru ini bisa jadi teman yang baik. Padahal interaksi keduanya baru sebatas menyebutkan nama. Lalu gue bertanya pada teman yang bersikap memusuhi itu. Jawabannya adalah: nggak suka aja, kayaknya apa yang dia lakukan tuh salah banget di mata gue. Keberadaan dia aja udah salah.
Wow. Gue kebayang gimana misalnya si anak baru ini tried to please teman gue dan tetap aja dia gak disukai. Pasti bakal sakit hati. Untungnya si anak baru ini entah cuek atau bebal, gak terlihat ambil pusing. Sampai suatu ketika si anak baru bilang ke gue kalau dia sakit hati sama sikap si teman.
Manusia emang gitu. Sering kali bersikap seenaknya. Banyak yang belum sadar kalau act-nya itu mempengaruhi hidup orang lain. Dan tindakan orang lain pun mempengaruhi dirinya. Karena, biarpun sendirian, manusia saling terkait satu sama lain.
So dont take things personally. Kita toh nggak bisa mendikte perasaan orang terhadap kita. This really isnt about you. This is about me, who can't get over you.
3 bulan di awal 2013 ini benar-benar teguran buat saya.
Published with Blogger-droid v2.0.10