Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

lluvia #15

Belakangan hujan terus turun. Hati saya terus pedih.
Saya pernah patah hati, menangis hingga airmata habis.
Bertanya kenapa, bagaimana, apa yang salah.
Kemarin saya pikir saya patah hati.

Iya, saya menangis hingga airmata habis.
Iya, saya bergelung dalam selimut menahan dada yang semakin sesak.
Lalu sudah. Saya melanjutkan hidup.
Karena seperti yang ia bilang, saya tidak cinta padanya.

Saya tidak melakukan apapun untuknya.
Ia tidak melakukan apapun untuk saya.
Saya hanya mementingkan hati saya.
Ia hanya mementingkan apa yang membuatnya nyaman.

Kami hanya kebetulan bersama.
Dan memutuskan membuat sedikit kenang-kenangan.
Ia mungkin menambah guratan luka dalam hati saya.
Saya tidak bisa melakukan hal yang sama.

Saya terluka karena saya peduli.
Saya tidak bisa pura-pura ia peduli.
Maka begitu hujan menghilang, saya akan menutup kisah tentangnya.
People grow apart, feeling change, memory fade away. We all together alone.

Tuan, dont turn your back on me.