Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

saya cuma punya uang

Harusnya kamu nggak iri sama saya. Kamu kan sudah menikah dan mempunyai anak. Kamu nggak perlu susah dengan rapat redaksi dan narasumber seenak udel.
Kamu nggak perlu mikirin berangkat jam berapa biar nggak kejebak macet. Kamu nggak perlu ngabisin batre ponsel di angkutan umum biar nggak bosen. Kamu gak bisa iri sama saya.
Kalau sedih/marah/gelisah, kamu bisa cerita sama pasangan. Kamu nggak perlu lagi jaga image depan dia. Kamu bisa setiap saat peluk dan cium dia berhadiah pahala. Kamu nggak perlu memilih baju canggih supaya dianggap manusia.
Jangan iri sama saya. Kamu kan punya balita lucu yang imut-imut. Kamu bisa ajak dia jalan-jalan dan memamerkan kepintarannya berhitung. Kamu bisa kembali jadi anak kecil tanpa dipandang miring sama orang. Kamu bisa tidur siang bareng, lalu duduk di teras saat sore hari. Sudah wangi sambil menunggu suami.
Kamu iri sama saya? Kamu kan nggak perlu berdesakan menjelang magrib. Bergumul bau badan demi cepat sampai rumah. Padahal tiada sesiapa yang menunggu saya di rumah.
Kamu bisa khusuk beribadah. Bukannya show off sama orang yang nggak kamu suka. Kamu bisa melakukan hobi. Kamu bisa menatap matahari. Kamu bisa menikmati semilir angin. Kamu bisa menulis puisi, memanggang kue, merajut, melukis, apapun.
Kamu harusnya nggak iri sama saya. Sama kebebasan saya yang cuma omong kosong; karena saya ini kan buruh. Sama kerjaan saya yang keliatannya hip; sebetulnya itu cuma rutinitas menjemukan. Sama gadget saya yang canggih; itu cuma kompensasi dari kesendirian.
Pada akhirnya, saya cuma punya uang. Uang memang bisa beli segalanya termasuk cinta. Tapi uang saya tidak berguna, jangan jangan malah membawa saya ke neraka.
Kalau masih iri, coba pikir. Saya jam segini masih ngepost di blog. Sementara kamu udah tertidur lelap. Hangat dipelukan kekasih dengan bayi yang terbaring tenang di sisi satu lagi.
Selamat malam fulltime mother, jangan keluar rumah. Bayi mu lebih butuh otak mu daripada perusahaan yang menggajimu sebatas upah terendah.
Published with Blogger-droid v2.0.9