Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Lets Get Physical

Jaman gue kelas 1 sd ada anak perempuan namanya Rini. Kami duduk sebangku. Anak ini sering nanya jawaban matematika ke gue. Karena gue lugu, gue kasih tau aja. Suatu hari kakak gue bilang gak boleh ngasih jawaban ke orang lain. Maka berhentilah gue ngasih jawaban ke Rini. Dia marah, gue dicubit sampe biru. Saat itu gue bingung. Gue melakukan hal yang benar. Kenapa lantas gue dijahati?
Waktu kelas 5 sd, temen gue berebutan lapangan sama anak kelas 4. Buat main galasin, cari posisi lapangan yang adem. Karena gue ketua kelas 5, gue bilang suit aja. Yang menang boleh pake lapangan duluan. Ternyata kelas 5 yang menang suit. Tapi kelas 4 gak suka dengan itu, mereka ngehasut kelas 6 dan mengkambing hitam kan gue. Waktu istirahat, kaki gue dijegal sama anak kelas enam. Lagi, gue bingung, apa ada cara gue yang salah? suit kan udah paling fair banget.
Kelas satu smp, temen gue ngadu sambil nangis, dia bilang tali bra-nya ditarik anak kelas dua. Waktu kebetulan ketemu di kantin, anak kelas dua itu melakukan hal yang sama lagi ke temen gue. Di depan mata gue. Lantas gue meng- confront si kakak kelas. Kenapa dia melakukan itu? dia bilang sebagai pelajaran, supaya besok2 tali bra-nya gak berbayang dari luar. Lantas gue bilang: apa lo gak punya cara yang lebih pintar buat ngajarin junior lo? mungkin lo harus lebih dulu belajar soal ukuran rok di bawah lutut. Pertemuan berikutnya, si kakak kelas mendorong gue ke selokan.
Saat itu gue berpikir. I did the right thing, did i? lantas kenapa gue malah dijahati? Apa karena ada pihak yang merasa terancam dengan ke-vokal-an gue? Lantas merepresi gue dengan satu satunya senjata mereka. Fisik.
Beberapa waktu lalu, gue juga sempet ditabrak di tangga dan ditolak untuk semobil bareng. Karena kalimat: 'kalau yang liputan konser beda beda, nanti promotornya bingung' yang gue anggap really stupid statement. Lagipula secara logika gak ada yang salah dari reporter yang meminta liputan konser. Dimana pun, hal itu wajar terjadi.
Dari semua itu, gue paling gak habis pikir kenapa harus pake gesekan fisik? i mean i hold redbelt in tae kwon do. Nggak lantas gue menyelesaikan urusan pake fisik kan? Karena itukan cara orang primitif menyelesaikan masalah. Lagian lidah dan permainan otak bisa menyakiti lebih dalam, lebih parah. Without collateral damage.
I win the battle. I win the war. And those miserable people stay where they are, because they have nowhere to go. Kecuali ring smackdown, mungkin.
Published with Blogger-droid v2.0.9