Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Life is the big question.

Gue lagi menelusuri jagat maya sembari bergelut dalam selimut, mata masih sepet akibat acara semalam. Membuka beragam social media. Menuruni newsfeed, timeline, recent updates. Menemukan apa yang ingin ditunjukan pemilik akunnya.

Dalam sebuah kelas Teori Sosiologi, seorang dosen pernah berkata: bahwa nggak ada yang namanya manusia anti-sosial. Karena pada setiap pilihan yang diambil manusia berkaitan dengan 'apa pendapat publik tentang dirinya'. Bahkan semua benda yang ada di dunia ini dibuat untuk maksud itu. Menunjukkan diri pada dunia. Bersosialisasi.

Contoh umumnya, produk pemutih wajah, dipakai perempuan agar lelaki dan perempuan lain kagum akan warna kulitnya. Susu protein, dibuat khusus untuk laki-laki agar digilai perempuan dan lelaki lainnya. Kecap jenis tertentu, agar menantu disayang mertua. Car polish, supaya pemiliknya dilirik pengendara lain. Bahkan benda kecil seperti benang gigi dan korek kuping. Dibuat agar manusia tampil lebih baik saat bersosialisasi.

Dan sekarang, dengan gempuran gadget mungil nan canggih, manusia semakin dimanjakan saat bersosialisasi. Menuliskan pikirannya untuk mendapat persetujuan dari orang nggak dikenal. Mengabadikan fotonya untuk menunjukkan eksistensi. Memilih pakaiannya agar publik tau tentang selera fashion pemiliknya.

Pada akhirnya, manusia tidak bisa tidak mendapat pengakuan dari sesamanya. Lo bukan food blogger kalau nggak dapet undangan launching restoran. Lo bukan selebritis kalau infotainment nggak nongkrongin rumah lo. Lo bukan fotografer kalau gak ada yang nge-hire jasa lo. Lo bukan loner kalau temen-temen lo nggak mengakui itu.

Seberapa pun banyaknya gue teriak: I don't care about what people think/say about me. Gue tetap memilah-milah pakaian gue tiap pagi untuk menghindari tatapan: 'ih, aneh banget outfit-nya' dari orang yang gue nggak kenal.

But, suit urself. I'm not gonna change me. And the biggest question still: re u living u life in order to impress people u don't really care?

Don't worry about what people think. They don't think about u so often.

Comments