SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Live ur life?

Bagaimana kau bisa hidup sebagai dirimu sendiri saat kau tidak berkesempatan menjadi dirimu?

Saat setiap keputusan yang kau ambil berdasarkan pada how people will see u.

Mana kebebasan yang diteriakkan sebagai hak asasi ketika mencintai seorang lelaki menjadikanmu tidak tau diri.

Lalu apakah kau masih punya hak untuk bicara dan mengemukakan pendapat, saat represi lingkungan membuatmu menelannya bulat-bulat.

Tak ada yang benar, tak ada yang salah. Pada akhirnya manusia cuma cari selamat. Tidak peduli kalau sistem ini akan membunuh mereka pelan-pelan.

Oh, tidak akan ada yang mati. Tapi, tidak akan ada juga manusia berakal. Saat semuanya hanya mengikuti arus menuju curam.

Lantas, hidup siapa yang kau hidupkan? Dan diri siapa yang selama ini kau citrakan?

Comments