Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Nayla tak pernah merasa kesepian

'Kamu dulu pernah bilang kalo kamu butuh luka supaya bisa nulis. Gak kurang sentimentil apa tuh? Gak cuma sentimentil aja, tapi juga begok!' (67)

'Mungkin ia bisa berbagi perasaannya di twitter. Namun ia ragu, karena tak jarang status twitternya dihubung-hubungkan dengan masalah pribadi oleh orang yang ia sering sebut sebagai stalker.' (46)

'Ia sudah cukup tenang hidup di dalam dunia imajinasi yang diciptakannya dalam pikiran. Di dalam dunia ciptaannya itu, Nayla tak pernah merasa kesepian.' (82)

'Membuat tubuh mereka tak lagi duduk saling merapat. Membuat tangan mereka tak lagi berpegangan erat. Membuat bibir mereka tak lagi saling berciuman saat sempat. Membuat hubungan mereka bagai besi tua yang hampir habis dimakan karat' (94)

Buku ke-enam Djenar Maesa Ayu, 'T(w)ITIT!'. Cetakan pertama, 14 Januari 2012.

Comments