Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

Fever Nightmare

Saya jarang banget sakit, thanks to O type blood in my vein. Dan kalo saya sakit, cuma keliatan dari mata saya yang nggak bersemangat. Anyhow, kemarin saya kena demam, sejak terakhir entah kapan. Pulang kantor, saya langsung tidur. Lalu mimpi itu muncul.

Tiap kali demam, saya punya nightmare yang datang berulang-ulang. Ada 2 kodok ijo super besar yang loncat-loncat di trampolin. Saya terikat di antaranya. Merasa kesakitan tiap kali trampolin bergoyang. Merasa panas tiap kali kulit si kodok menyentuh saya. Dehidrasi. Namun tidak diijinkan minum. Karena takut pada mimpi itu, saya berusaha untuk tidak demam.

Semalam, I got another fever nightmare. Kali ini tanpa kodok. Diawal mimpi, saya berada di depan sebuah kastil. Tua dan berhantu. Namun cahaya siang hari masuk dengan mudah melalui jendela-jendela besar yang transparan. Lalu ada empat orang duduk di sofa mewah membicarakan betapa mahal dan antiknya lampu-lampu dalam kastil itu.

Saya berada di luar kastil, cahaya mataharinya menyengat dan membuat kulit saya sakit. Ada anak kecil yang menyerahkan kamera pada saya. Saya langsung membidik sisi -sisi kastil untuk difoto. Dari luar jendela, saya mengarahkan kamera ke lampu di dalam kastil.

Lalu ada suara besar yang mengerikan. Ada rasa sakit di punggung saya, dan saya tau harus membawa si anak kecil lari dari situ. Turun dari lampu. Itu, tangan yang besar, jemari panjang dengan kuku tajam, hampir menangkap saya. Sambil menggendong si anak kecil, saya hendak memperingati orang-orang di dalam kastil.

Too late. Ada cakar-cakar besar mengerogoti tubuh orang-orang itu. Menembus dari jantung hingga ke punggung. Empat orang itu cuma merasa ada yang salah dengan punggung mereka. Namun tetap menikmati keindahan lampu. Tersembunyi di sudut salah satu pilar, sepasang mata melihat saya. Selamatkan mereka dan kamu jadi korban penggantinya. Pergilah, pergi dengan anak dalam gendonganmu.

Lewat tengah malam, saya terbangun dengan tubuh penuh keringat. Demam saya sudah turun.

Comments