SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Late night sad story

Pas lagi cari parkiran di eX sebelum Love Garage tadi, ada nomor Esia sms gue: kmana kah dirimu?

Secara gue lagi janjian ma temen gue, itu sms pun gue bales: lg nyari parkiran. Lo dimana?

Nggak lama, ada balesan lagi: w di hatimu.

Nah, gue tau klo yang ngirim sms ini bukan orang dalam dugaan gue. Berselang 2 menit, nomor yang sama ngirim sms galau lagi. 2 sms galau. Terakhir, dia sms: dtg y pas nikahan w.

Gue sih nggak begitu penasaran. Feeling gue bilang, ini nomor my first bf. My high school bf. Old flame. Tapi pas dia sms gitu, gue langsung nelepon. Nada panggil terdengar berulang-ulang. Nggak ada jawaban.

Ya udah lah yaaa. Gue pun asik nontonin Agrikulture. Sumpah gue suka abis sama vokalisnya. Udah kagak ngeh dah tuh gue, ma tuh sms.

Begitu sampe rumah, bersih-bersih, makan minum, eh si Samsung getar-getar lagi. Ada sms masuk. Masih dari nomor Esia yang sama. Kali ini smsnya lebih panjang. Segala berpuisi soal kesalahan apa yang dia bikin hingga kami berpisah.

Well, my old flame, kesalahan lo cuma satu. Lo bilang dengan lantang ke gue: 'gue nggak pernah sholat, shin'. Don't u know it was break my heart?

Gue bales: mau nikah kok gundah? Banyak berdoa aja.

Belum sempet naruh si Samsung udah ada balesan: w mau nikah, tapi cuma sama lw.

Bla bla bla... Sampe dia cerita kalau nyokapnya udah meninggal. Gue lumayan kenal deket sama Ibu. Si Ibu seneng banget kalau gue main ke rumahnya. Sayang banget dia sama gue. Hiks, sedih. Lalu, gue jadi kepengen berada di samping my old flame ini. Membesarkan hatinya. Menunjukkan kalau masih ada gue yang peduli sama dia.

Tapi, gue nggak bisa melakukan itu. Our time was over. I can't be there for u. I can't hold u whenever u lost ur track. Dalam masa depan saya, kamu nggak ada. Saya hanya akan bilang, selamanya, kamu bagian istimewa dalam hidup saya.

Semoga bahagia.

Comments