Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Stop being yourself. Be original.

Suatu hari, gue denger kolega dan bos gue lagi bicara. Gue nggak nyimak dari awal sih. Tapi begini cuplikannyam

'Itu sama aja dengan be yourself kan?'

'Yah, tapi, mungkin, sekarang ini udah nggak banyak orang yang be yourself.'

Sambil masih asik ngetik BBm, gue nyeletuk: 'karena, saat lo be yourself, people judge you.'

Teriakan Be Yourself seperti udah keilangan maknanya sekarang. Semua orang bulak balik bilang 'be yourself dong'. Tapi, semua orang mulai lupa, siapa dirinya? Lo nggak bisa jadi diri lo sendiri saat lo nggak tau siapa elo. Kenapa bisa begitu? Mungkin karena lo terlalu kompromi sama keadaan. Mungkin karena lo keseringan faking. Mungkin karena lo nggak suka sama diri lo sendiri. Jadi teriakan Be Yourself cuma bergema dan memantul-mantul di dinding otak lo.

Hari ini, gue dateng ke sebuah acara dimana ada orang-orang dengan ide yang nggak biasa disuruh bicara. Mereka cerita, kalau mereka merasa bosan dengan keadaan yang ada. Tapi mereka nggak menyalahkan keadaan. Justru, mereka bertanya ke diri mereka, apa yang bisa gue lakukan supaya gue nggak bosen? Mereka nggak bermaksud mengubah keadaan. Mereka hanya ingin keluar dari kebosanan. Lalu mereka berkarya. Karya mereka, sebenernya sih bukan barang baru, tapi mereka berani beda. Dan mereka jadi pelopor di bidang tersebut. Oke, di sini, gue nggak lupa mention tentang good timing.

Tentu, awalnya mereka dicela. Karena mereka beda. Dan publik skeptis terhadap terobosan mereka. Namun, mengutip omongan dari salah satu pembicara: "Saat lo udah original, orang bakal nyari lo".

Dulu gue selalu jalan-jalan dengan bawa notes dan pensil, untuk nyatet ide yang sewaktu-waktu datang. Sayang, kadang gue masih takut menuliskan ide-ide itu. Gimana kalau gue dibenci karena gue berbeda?

Lots of love,
Shinta. I'm a weird in many ways.

Comments