SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Stay Anonymous

Tadi siang menjelang sore, ngobrol-ngobrol sama blogger. Entah bermulai dari mana, cerita kami berujung pada: boleh apa nggak nulis nama asli dan majang foto orang lain di blog kita?

Hemat gue, kalau itu orang aslinya emang publik figure macam artis, musisi, pejabat, atau sekedar kembang desa, boleh lah yah. Nah, polemik dirasakan saat foto yang dipajang dan nama yang disebutkan, bukanlah seorang publik figure.

Menurut pantauan, cewek-cewek sering banget memuja-muja dan memaki-maki pacarnya pake postingan blog. Eh, ini bukan lain adalah gue. Dari mulai pacar pertama, kedua, gebetan, mantan gebetan, semuanya selalu punya postingan, atau bahkan blog sendiri. Ah, tentu saja gue nggak menulis nama asli mereka. Apalagi nama lengkap. Kenapa? Karena, gue nggak kepengen blog gue muncul di hasil pencarian pas nama itu orang di-search pake Google.

Karena, tiap orang punya image yang mereka ciptakan sendiri. Dan tulisan gue, berkemungkinan membuat pembacanya punya anggapan yang salah tentang objek tulisan. Ah, sebenernya sih, karena gue nggak sanggup nulisin nama mereka, hahaha.

Kebetulan, blogger ini juga melakukan hal yang sama. Lengkap dengan nama dan foto saat mereka berdua. Tadi sih, gue nggak ngomong sama dia: gimana kalau si mantan punya pacar baru, dan pacarnya itu ngebaca postingan lo tentang mantan?

Sisi positifnya, pacar baru itu bisa prepare terhadap si cowok. Jeleknya, yah itu tadi, membuat anggapan yang salah. Ada orang yang bilang: siapa sih yang bisa mengubah anggapan? Makanya, jangan bikin orang jadi punya alasan untuk beranggapan salah dong. Bego.

Misalnya nih, kalau ada orang lagi ngelamar kerja, trus HR officernya iseng, nge-Google nama itu orang. Eh, salah satu entri-nya, postingan dari mantan pacar yang ngebongkar semua aib itu orang. Widih... Itu kan udah merugikan. Eh tapi, contoh di atas fiktif loh. Cuma buah imajinasi gue aja.

Dari semua postingan blog gue yang menceritakan sosok profil, biasanya pake nickname. Dan nggak pake foto. Kecuali kalau itu orang public figure yaaah. Simplenya gini, gue paling bete kalau ada temen yang nge-tag foto gue tanpa bilang-bilang dulu. Jadi, gue juga nggak akan melakukan hal yang sama. Quotenya nih (tsah, begini aja pake quote): jangan mencubit kalau tidak mau dicubit. Dicubit itu kan sakit. Kecuali cubitan kecil, itu tanda kasih sayang.

Akhirnya, gue dan si blogger sepakat, sepanjang mendapat ijin dari objek cerita, nama dan foto boleh dipublikasikan. Oh, satu lagi. Di Indonesia emang masih jarang kasus pencurian identitas. Tapi, di luar negeri sono, katanya udah banyak. Nah, mending gue wanti-wanti dulu, kalau bisa nggak usah naro banyak informasi di internet. Fyi, gue bisa dapetin nomor telepon, alamat rumah, nama orang tua, adek, pin BB, tempat kerja, almamater, judul tugas akhir, cuma dengan modal nama lengkap. Google menyediakan semua, lo cuma kudu lihai buat menggunakannya.

xoxo,
Not-so-anonymous Shinta.

Comments