SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Berbeda-beda tapi tetap kudu ikut suara mayoritas

Jaman SMA dulu, guru Tata Negara gue bilang gini ke gue: '...pendapat kamu emang bagus tapi, kamu harus mengalah dan mengikuti suara mayoritas. Atau, kamu harus bisa persuasif dan argumentatif dalam mempertahankan pendapatmu. Itu pun kalau kamu cukup kuat.'

Tapi, gue suka ngerasa kalau gue bener, kenapa harus mengalah? Beberapa tahun sejak lulus SMA, gue belajar lagi, biarpun ada norma dan nilai mayoritas dalam masyarakat, sebenernya, tiap individu punya norma dan nilainya sendiri. Karena manusia adalah makhluk sosial, tiap individu ini diharapkan dapat berkompromitas dengan norma dan nilai yang ada. Yang gue artikan sebagai 'penyeragaman'.

Apa kabar dengan berbeda-beda tetapi satu juga? Keliatannya, itu cuma mitos nusantara. Contoh kecilnya, temen gue yang merantau dari Padang ke Jakarta, dipanggil dengan sebutan mbak alih-alih uni. Gue yang 100 % keturunan Betawi, lebih terkenal dengan nama Kak atau Mbak Shinta, bukannya Mpok Shinta. Efek Jawanisasi peninggalan Pak Harto. Budaya aja, udah diseragamin. Apa lagi pemikiran? Budaya kan buah pikiran manusia.

Kalau semuanya seragam, dimana nilai keunikan individu? Kalau semuanya diharuskan berpikir kompromitas, dan akhirnya menyembunyikan pemikiran sendiri, bukannya itu nggak adil? Saat individu takut mengemukakan pendapat karena pendapatnya dianggap minoritas dan nyeleneh, dimana demokrasi?
*Intermezo, ngomong tentang takut berpendapat, gue jadi inget qoute: 'seseorang bisa dibilang pemimpin yang baik jika pengikutnya bisa mengutarakan pendapat tanpa rasa takut'.

Gue ngerti deh. Gue emang sering punya pendapat yang berbeda dari kebanyakan orang. Perbedaan latar belakang, pendidikan, pengalaman, referensi dan kemampuan analisa seseorang, bikin orang itu punya pendapat sendiri atas suatu masalah. Nggak ada yang bener atau salah karena semua itu relatif. Tergantung lo melihat dari angle mana. Dan gue nggak bisa memasukan dunia yang besar ini ke dalam bingkai kecil pemikiran gue.

Kebetulan di sini katanya negeri demokrasi, jadi marilah kita sepakat untuk tidak sepakat. Saya tidak akan memaksakan pemikiran saya, dan biarlah dunia tetap punya orang mayoritas. Bukan karena saya tidak dewasa dalam menyikapi masalah, I just being real, be original. We never really grow up, anyway. We just learn how to act in public.

Do whatever make u feel good, people. Hail to democrazy.

Comments