Days in Jogja - Time Travel


Udah menjelang magrib dan Benteng Vredeburg sudah selesai beroperasi. Gue memuaskan diri motoin Monumen Serangan 1 Maret dan gedung BNI berlatar langit merah. Maklum di Jakarta jarang liat langit walaupun langit menaungi setiap saat. Itulah sebabnya gue suka moto langit di luar Jakarta. Tetap mengikuti arah keramaian, gue berjalan ke alun-alun utara tanpa tau itu adalah alun-alun utara. Arena permainan di Pasar Sekaten yang kebetulan lagi digelar menarik perhatian gue. Terakhir kali jaman esde gue mendatangi pasar malam rakyat macam ini. Sisanya, gue merasa didnt fit in.

Nggak berubah, dari dulu pun jenis permainan yang dinaungi Diana Ria Enterprise ini menampilkan permainan yang sama. Ada rumah hantu yang bau pesing, tong maut dengan desingan suara motor plus bau bensin serta ayunan ombak yang menarik perhatian gue. Sebenernya bukan si wahana yang menarik, tapi atraksi akrobatik yang dilakukan oleh sindang-sindang ketika mengaktifkan permainan tersebut. Setelah tiga putaran hanya nonton, di putaran selanjutnya gue memutuskan ikut naik.


 

Gue bertanya-tanya, mereka ini, umurnya pasti nggak jauh dari gue. Sejak umur berapa mereka mempelajari atraksi ini? Bagaimana proses rekrutmen mereka? Lalu, bagaimana hidup meereka kalau tiap malam harus forsir energi seperti itu? Daftar pertanyaan ini bertambah panjang begitu gue merasa they really enjoy their job. Ikut berjoget di sela-sela lagu yang nyampahin telinga gue, saling bercanda, tertawa, menggoda, rasanya hampir dua tahun lalu gue bisa into pekerjaan gue dan melakukannya sambil tersenyum. Kenapa mereka tampak bahagia dan bangga dengan pekerjaan mereka?