Sepenggal cerita di ujung hari

Sungguh, gue pernah nggak peduli pada tidur dan ngantuk.
Sungguh, gue selalu merasa ngantuk tepat pukul 9 malam. Lalu dengan mudah terlelap.
Sungguh, gue bisa tidur dimana aja dalam keadaan apa aja.
Sungguh, gue selalu terbangun dengan rasa puas dan badan segar.
Tapi itu dulu.
Dulu.
Udah lama, banget.
Sekarang, gue belum ngantuk.
Seharian gue melanglang buana, nempel sana nempel sini. Capek.
Namun saat ini, mata gue menyalang, menatapi layar kecil dalam genggaman.
Otak gue selalu awas, kalau-kalau ada bintik merah kecil di kanan atas yang berkedip-kedip.
Jantung gue berdebar demikian cepat dan tidak teratur.
Sungguh, dulu gue bisa tidur saat gue mau tidur.
Sekarang, gue harus merayu tidur.
Sekarang, betapa gue merasakan nikmatnya kalau kita ngantuk di waktu yang tepat.

Zzz,
Shinta. Nubie insomniac

Comments