SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Sepenggal cerita di ujung hari

Sungguh, gue pernah nggak peduli pada tidur dan ngantuk.
Sungguh, gue selalu merasa ngantuk tepat pukul 9 malam. Lalu dengan mudah terlelap.
Sungguh, gue bisa tidur dimana aja dalam keadaan apa aja.
Sungguh, gue selalu terbangun dengan rasa puas dan badan segar.
Tapi itu dulu.
Dulu.
Udah lama, banget.
Sekarang, gue belum ngantuk.
Seharian gue melanglang buana, nempel sana nempel sini. Capek.
Namun saat ini, mata gue menyalang, menatapi layar kecil dalam genggaman.
Otak gue selalu awas, kalau-kalau ada bintik merah kecil di kanan atas yang berkedip-kedip.
Jantung gue berdebar demikian cepat dan tidak teratur.
Sungguh, dulu gue bisa tidur saat gue mau tidur.
Sekarang, gue harus merayu tidur.
Sekarang, betapa gue merasakan nikmatnya kalau kita ngantuk di waktu yang tepat.

Zzz,
Shinta. Nubie insomniac

Comments