Resign (Bukan) Berarti Kalah


Setelah beberapa kali pindah kantor, gue menemukan satu kesamaan dari manajemen kantor: resign berarti kalah. Menyerah dari tantangan yang diberikan oleh kantor. Oleh atasan. Nggak tahan dengan presure kerjaan, atau lingkungan. Resign adalah perbuatan tercela. Kantor lu yang selanjutnya belum tentu sebaik kantor yang sekarang.

Well, tidak selalu seperti itu. Karena segalanya selalu relatif tergantung di mana kamu berdiri. Bisa jadi buat management, anak-anak yang resign ini adalah mereka yang terkena seleksi alam, mereka yang nggak tahan banting dan memilih cara mudah: resign.

Namun, jika kita ubah posisinya, resign tidak selalu simbol kekalahan. Toh pekerjaan hanyalah satu fase kehidupan dan manusia selalu bergerak ke depan, mencari kenyamanan untuk dirinya. Maka sebagai kelas pekerja, resign adalah pembebasan. Resign bisa berarti I know I deserve more, and if this company can't provide it, I'll find another you. Sebagai buruh, slogan kita haruslah selalu love your job, not your company.

Resignlah jika dilarang berinovasi



Walau cuma buruh, gue punya kebiasaan untuk always give my best on a project. Terlebih jika proyek itu diserahkan langsung ke gue. Jadi jaman dahulu kala, ketika gue diminta 'menghidupkan' situs sebuah majalah, gue pun langsung membuat plan. Mulai dari editorial, tampilan situs, penempatan iklan, optimisasi media sosial dan segala hal yang berkaitan dengan meningkatkan traffic situs tersebut.

Semua sudah tercakup dalam digital plan pertama yang gue buat, dan si empunya perusahaan berjanji akan menelaahnya. Lalu hari berlalu, minggu berganti, bulan susul menyusul. Si Ibu terus meneror gue dengan 'Mana traffic ke situs kita?!' sambil dengan sukarela mengabaikan digital plan guah. Setiap kali gue sodorin si digital plan, si Ibu bilang 'Lakukan sesuai yang saya minta aja.' Lah, kan Ibu mintanya traffic lancar dan banyak, ini saya bikinin plannya. Ibu tinggal iyain aja dan kasih saya budget. Gak ada yang gratis di internet ini, Ibuuuu.

Jadi gue memutuskan resign. Karena nggak ada yang lebih mematikan seseorang selain ketika ia dilarang mengembangkan kemampuannya. Ingat, perusahaan yang baik akan mendorong karyawannya untuk berkembang, untuk kemudian diberdayagunakan dalam mengembangkan perusahaan.

Gak perlu resign kalau dimusuhi coworkers


Musuhan di perkantoran bisa diawali dengan masalah sepele: terlalu banyak gaya; sampai masalah yang lebih berbobot kayak: nggak bisa kerja walau udah diajarin. Terutama di kalangan cewek-cewek. Simply because kita terlalu perasa.

Kenapa berantem sih di tempat kerja? Ingat, umur seseorang tidak menjamin kedewasaannya. Misalnya seperti mbak-mbak Senior Promotion Staff yang entah kenapa tidak suka sama gue. What did I do wrong anyway? Selain jatuh cinta sama mas Art Director. Selalu ada orang yang nggak akan pernah suka sama lu no matter how anti social you are. Saking tidak sukanya, ia mendoakan agar gue segera resign. But remember, Baby, resign never means to lose. See it like this, you might be lose the battle, but you win the war anyway. Karena tiap kali pindah kerja gue selalu mendapatkan uang jajan dan priviliges yang lebih baik daripada kantor sebelumnya.

Tapi gue sih santai. Toh yang nilai kerjaan gue bukan si mbak itu, jadi gue tetap enjoy kerja di sana, bahkan sekali dua kali sengaja bikin kesel si mbak dengan memesan mobil di jam yang sama. Berkat doa si mbak, gue lantas ditawari oleh sebuah majalah lain dengan gaji yang lebih banyak daripada saat gue sekantor dengan mbak. Since my passion is money, there is no reason to not take the offer. 

Resignlah kalau kantor tidak bisa memenuhi kebutuhan


Not about money. As much as I love money, hal itu nggak selalu jadi standar pemenuhan kebutuhan gue. I was talking about self-development. Banyak orang yang cukup puas menerima gaji seadanya karena melihat ia bisa belajar banyak dari tempat ia bekerja. Dan ini tidak terbatas hanya untuk anak-anak yang baru lulus.

Tiga tahun lalu, gue menolak tawaran pekerjaan di sebuah korporat dengan alasan gue mau belajar lebih banyak di agensi. Kenapa harus belajar di agensi? Kenapa nggak belajar di korporat? Ada banyak alasan sebenernya, tapi yang terutama buat gue adalah punya tempat untuk berdiskusi, untuk menanyakan kebingungan gue dan menyerap ilmu dari senior-senior terdahulu. Apakah di korporat tidak bisa seperti itu? Tentu bisa. Tapi terbatas.

Nah, bagaimana kalau hal yang dipelajari sudah habis? Itulah alasan gue memilih kerja di agensi digital. Tanpa bermaksud sombong, tapi gue merasa sudah tidak ada ilmu yang bisa gue pelajari dari bekerja di majalah cetak. Dan media digital sangat memukau dengan ke-realtime-annya, data yang akurat dan algoritma yang selalu berubah, damn you, Facebook!

Satu lagi alasan gue senang kerja di sini karena mentor-mentor gue selalu mendorong gue untuk belajar dan mengaplikasikannya dalam pekerjaan. Mau bikin apa aja, bebas!


Buat perusahaan, kita emang gampang banget digantikan dengan pekerja yang lebih murah, yang lebih bisa diatur, yang lebih nurut. Tapi hal tersebut juga berlaku sebaliknya. Kita juga bisa dengan mudah nyari kantor yang lebih banyak gajinya, yang lebih sering ngasih bonus, yang lebih pintar bosnya, yang lebih memberikan tantangan.

Maka jangan pernah takut resign. Ingat kalau rejeki itu datangnya dari Allah, dan seperti segala hal di dunia, semua ada waktunya.