Apa kabar, Bo? Kemarin saya ke Gramedia. Sanctuary saya pas jaman SD. Dulu waktu Hero Swalayan masih ada di Gatot Subroto. Biasanya saya ke sana setelah ngumpulin duit jajan seminggu dan bisa buat beli komik. Ngga seperti sekarang, dulu banyak komik yang sampul plastiknya terbuka, jadi saya puas-puasin baca sebelum akhirnya beli cuma satu. Jaman itu majalah Bobo tidak setipis sekarang. Apalagi pas edisi khusus, tebalnya bisa ngalahin kamus. Hahaha, bercanda ya, Bo. Bobo benar-benar teman bermain dan belajar saya, ada beberapa dongeng dunia yang sampai detik ini saya masih ingat. Ada juga dongeng lokal yang jadi favorit saya. Mungkin penulis Bobo sudah lupa, ada sebuah cerpen, yang memuat cerita ibu petani yang asik bekerja hingga anaknya kelaparan. Saya ingat ada syairnya: tingting gelinting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan. Saya kemudian meniru syair tersebut dan dimarahin Mama. Beliau bilang, ngga pantas didenger orang. Oh ya, Bo. Mama adalah orang yang berjasa...
Affordable Coffee Shops: South Jakarta Vol.1
on
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Ada banyak warung kopi di berbagai sisi Jakarta, tapi jika yang lo cari adalah kopi lokal yang diseduh dengan layak dan harga terjangkau, tempat-tempat berikut bisa jadi rekomendasi. Lo mungkin menemukan 'ah, itu sih tempat nongkrong Shinta', but, that's exactly the point. Gue nggak akan menyarankan tempat yang nggak bikin gue nyaman. Di kantong dan di lidah. Karena judulnya affordable, bawa uang tunai kalau main kemari, yak. Gak semuanya menyediakan mesin EDC.
Kalau lo belum pernah mampir ke Wisang, ziarah kopi lo belum sempurna. Atau mungkin lo adalah orang yang mementingkan hospitality dibanding quality. Sedikit hospitality di Wisang mungkin anggukan dari Cubung dan pertanyaan 'dari mane?'. Sisanya semua penghuni Wisang tenggelam dalam pembicaraan panjang yang kadang nggak berfaedah.
Wisang cuma menyajikan kopi seduh manual, hingga Cubs punya apprentice dan penganan kecil-kecil kembali bermunculan. Dulu gue sempet protes ke Cubs karena warung pernah bau kucing banget, tapi sejak Lintong dan MbakMeng pergi, gue malah kangen bau kucing.
Ngopi di Wisang nggak perlu modal banyak. Semua harganya kurang dari 30 ribu. Itu udah dapet ngopi ma nyemil. Down side-nya paling, ya, seluruh area di Wisang adalah area merokok. Dan kadang suasana warung terlalu dark buat mendatangkan cewek-cewek kece.
Bicara Kopimana selalu identik dengan penitipan istri, walau nggak ada satu istri pun yang dititipkan di situ. Sebelum pindah lokasi, kalau dateng ke Kopimana gue selalu berasa maen ke rumah temen. Tau, kan, rumah temen lo yang jadi tongkrongan segeng dan emaknya selalu suplai pisang goreng. Persis begitu. Ketika pindah ke pinggir jalan raya, Kopimana syukuran buat nambahin angka 27 di belakang namanya. Padahal, kan, nomor warung mereka tuh 45. Lha. Selain kopi seduh manual dengan pilihan beans yang beragam, favorite gue di Kopimana itu adalah Kopi Buatan Istri. Gak tau dah istri siapa. Senengnya pas gue keabisan stok KBI botolan, bang Ronny berbaik hati meracikan KBI yang fresh buat gue. Minum kopi di Kopimana plus nyemil donat buatan mamak juga gak sampe 30 ribu. Tapi gue paling males kalau ada rombongan laki-laki datang kemari cuma buat liat jejeran baristi di Kopimana. Dih.
Kalau lo lewat Gandaria dan buru-buru, lo akan melewatkan Kroma. Kalau lo pelan-pelang tapi gak fokus, bakal kelewatan juga. Kroma berdiam di lantai 2 sebuah kontainer warna putih di atas sebuah tempat makan dan di samping apartemen yang ada Setarbaksnya. Pas awal gue ke sana yang menyambut adalah koh Edward bukan Cullen. Dari jauh si kokoh androgini gitu, gue canggung mau manggil mbak atau mas. Kalau lagi bawa temen ke Kroma, gue berdoa supaya masih ada tempat duduk nyisa di Kroma. Karena doi punya ruangan yang mungil, tapi asik. Katanya, sih, di Kroma ada penganan ringannya juga tapi gue belum pernah mesen. Kopi seduh manual di sini nggak nyampe 25 ribu tergantung beansnya. Biasanya koh Edward langsung yang nyeduhin. Kroma juga sering bikin acara yang sering bentrok ma jam kantoran gue. Huh. Di Kroma, bisalah ngopi-ngopi sambil nambah ilmu. Update: Kroma pindah ke Panglima Polim V dengan ruangan yang lebih besar dan kopi yang tetap sangar.
Kali Skut mengambil nama dari skuter karena sering banyak anak-anak bervespa nongkrong di sini. Asiknya duduk-duduk di Skut karena diitung masuk komplek perumahan, jadinya adem dan sepi. Sayup-sayup angin semilir bikin ngantuk. Pertama kali gue main ke Skut ada bang Sani yang ramah banget walau super sibuk. Kadang kalau sempet nemenin ngobrol juga pas temen gue belum pada muncul. Dulunya, lokasi Skut adalah Griya Astika tempat anak-anak fashionable nyari fashion stuffs a la Diana Rikasari. Down side nongkrong di Skut, sinyal Indosat dan Bolt kagak muncul. Katanya karena diblok sama Telkom Flexi. Skut juga harus tutup on time jam 22.00 sesuai peraturan perumahan. Jadi siap-siap manjat verboden kalau main lewat dari jam tersebut. Plus ukurannya yang mungil bikin harus cepet-cepet dateng supaya kedapetan tempat cihuy. Ngopi di Skut sangat terjangkau sekali. Paling yang bikin duit abis adalah abang-abang nasi goreng atau ketoprak atau bakso yang melintas di jalan depan.
Brandingnya emang pake huruf kapital semua. Banyak yang bilang KOPIKOPI letaknya tersembunyi. Padahal doi terletak persis di depan Taman Langsat. Lokasi duduk paling asoy di KOPIKOPI adalah di teras lantai mezzaninenya. Dengan pandangan langsung ke Taman Langsat. Misal lo sensitif sama hal-hal mistis, jangan duduk di situ abis magrib :p KOPIKOPI punya menu penganan yang wajib dicoba, tapi kopi seduh manualnya pun nggak boleh dilewatkan. Segelas kopi hitam harganya 25 ribuan. Cocok diminum menemani santai ditiup-tiup angin semilir. Misal main di sini, datanglah agak sorean, karena warung tutup jam 10 pas. Downside main di sini paling kurangnya dinamika orang-orang bar dengan pelanggan. Atau mungkin gue datang pas lagi unavailable socially, jadi mereka nggak ngajak gue ngobrol. Yang berarti mereka adalah orang yang pengertian.