Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

The Nameless Guy

Dari tempatnya berdiri, ia menatap lelaki itu seakan tidak ada hal lain yang lebih layak mendapatkan perhatiannya. Sesuatu dari si lelaki membuatnya enggan melepaskan pandangan. Ia masih menatap sambil mencari tahu.

Apakah wajahnya? Air muka? Atau pembawaan si lelaki yang cuek pada dunia? Ia belum menemukan jawabannya saat halte yang dituju tiba.

...

Matanya berkedip perlahan menyadari sekali lagi ia berpapasan dengan lelaki itu. Kali ini pandangan mereka bertemu. Si lelaki ikut mengamatinya. Lalu keduanya tersenyum. Bola mata si lelaki membesar melihat senyumannya. Sepanjang jalan keduanya saling diam dan mencuri pandang. Sambil tersenyum cerah, ia mengangguk pada si lelaki saat halte yang dituju tiba.

...

Senyuman merekah di bibirnya saat melihat lelaki itu di lain waktu. Ia mengkalkulasi segala. Walau entah si lelaki masih ingat akan dirinya. Ia menatap ramah. Dan saat si lelaki melihatnya, keduanya tahu mereka harus bicara.

Suara lembut si lelaki membelai telinganya. Tampilan si lelaki yang aku-tidak-peduli-pada-dunia juga menyegarkan matanya. Ia tidak bicara banyak. Hanya satu-dua kalimat yang memicu si lelaki untuk bercerita. Ia tahu segala. Semua sesuai perkiraannya.

Si lelaki belum lagi menyebut nama. Dan ia tidak terlalu peduli untuk bertanya. Pun keduanya asik bercerita hingga bulan menjemput malam. Ia menikmati menatap si lelaki. Tak peduli apa yang didengarnya. Ia tahu segala. Semua sesuai perkiraannya.

Ia menyebutkan namanya. Si lelaki mengulang namanya. Tapi tidak sekali ia bertanya nama si lelaki. Dan ia tidak terlalu peduli untuk mengetahuinya. Keduanya merasa berat untuk berpisah. Apakah ini untuk selamanya?

Ia tidak pernah berhenti menikmati menatap si lelaki. Hingga saat si lelaki menyebut namanya, ia menutup kedua telinganya. Ini tidak untuk selamanya. Si lelaki lebih baik tidak bernama.

Comments