SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Can't Afford Another Heart Breaks

Gue lagi menunggu rekan perjalanan saat segerombolan anak berbaju Pramuka menginvasi Pizza Hut dan ngobrol riuh rendah.

Maaf kalau saya nguping. I find them fascinating.

'Gue lagi jerawatan gini, mana Jerry suka.' ujar suara pertama.
'Iya ih lo kenapa jadi jerawatan banget sih. Obatin dong.' terdengar suara berikutnya.
'Tadinya Jerry suka loh sama lo.'
'Tadinya??!' beberapa suara riuh bersamaan.

Lalu mentally gue menjawab, kalau cuma karena jerawat si Jerry gak jadi naksir cewek pertama, berarti Jerry gak layak diperjuangkan. Teorinya sih gitu. Tapi toh kebanyakan perempuan sibuk beresin mukanya biar dilirik lelaki.

Mungkin beberapa lelaki berpikir kalau ini perempuan gak bisa rawat mukanya sendiri, gimana nanti ngerawat yang lain?

Tapi lagi, perempuan kan bukan perawat.

Gerombolan anak Pramuka sekarang ganti topik ngebahas mata pelajaran. Mengeluhkan beberapa yang mereka sulit mengerti, beberapa yang gurunya gak masuk akal, dan beberapa yang kayaknya gampang banget.

Gue jadi inget omongan jaman gue SMA, kalau satu guru cuma ngajarin satu mata pelajaran, kenapa gak boleh satu murid cuma fokus di satu mata pelajaran? Tidak ada jawabannya.

Lalu si anak-anak Pramuka mengeluarkan beberapa majalah. Keduanya pernah gue tulisi. Humblebrag dikit, majalah-majalah gue yang dulu dan sekarang selalu leading magazine in their market.

Karena gak punya temen, jadi jawabin percakapan orang lain secara mental. Rekan perjalanan, cepatlah tiba.

Comments