Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Mommy, Please Stop Crying

Gue sebenernya gak tipe nulis-nulis beginian. Dan tulisan ini tidak bermaksud menghakimi perempuan manapun.

Hari ini dimulai dengan bayi paling besar dan paling pemarah gak mau mandi kalau gak dikasih mainan lagi. Lalu berujung pelukan bau susu sebelum gue berangkat bermain dan bekerja. Iseng buka folder-folder foto, gue sadar belum pernah sekalipun foto bayi. Gue pun whatsapp jejeran ibu dan ayah di grup.

Shin: gue mau foto bayi nih, pinjem bayi kalian dong. Tapi dandanin dulu yang wangi.
A: silakan tantee..
F: ah, nanti kayak kasus daycare lagi, emte.

Gue awalnya belum tau kasus daycare itu kayak apa. Walau kesel karena si F menunding gue akan apapun itu tentang day care, gue langsung konsultasi sama Google dan nemu video bayi dibanting-banting. Sedih dan gak rela walaupun itu bukan bayi gue.

Beberapa belas tahun lalu waktu bayi boneka digigit sama orang yang gemes ma dia, gue lebih murka dibanding emaknya si bayi. Manusia kok gak bisa mikir panjang. Masa bayi digigit, tololnya keterlaluan.

Lalu membuka Path, ada postingan yang gak setuju kalau ibu-ibu sebaiknya tinggal di rumah aja. Ibu-ibu juga harus kerja. Kali-kali nanti suaminya jadi bajingan dan ibu-ibu yang gak punya financial independency akan terluka. Membalas komen gue, si junior bilang mending bayinya diasuh orang tua atau mertua supaya ibu-ibu bisa tetap bekerja dan bayi berada di tangan yang aman dan sejahtera.

Di lingkungan gue, kebanyakan ibu lulusan SMA dan tinggal di rumah. Mereka punya pendapatan di luar pendapatan suaminya. Anak-anak mereka bahagia dengan kadar kenakalan yang beragam. Ibu-ibu yang tinggal di rumah aja belum pasti bisa mengarahkan anak-anak ke jalan yang lurus, belum pasti mengasuh bayinya dengan lurus.

Nenek-nenek yang mengasuh cucu-cucunya, kapan mereka akan beristirahat dan menikmati masa tua? Tentu nenek senang bermain dengan cucunya. Tapi mereka sudah tidak semuda dan setanggap dulu untuk mengasuh lebih dari 12 jam. Bayi itu rewel dan bikin jengkel. Balita itu aktif dan bikin berantakan. Remaja itu gila dan bikin stress kata bang haji Rhoma. Kenapa orang tua tega melepaskan tanggungan ini kepada kakek-nenek (atau bahkan orang asing) untuk lantas mencari lembaran uang?

Gue berkomentar atas kasus daycare di awal: Sedih, ibu-bapak bekerja untuk membiayai pembully bayi mereka.

Gue berkomentar kepada junior: kapan kakek-nenek bisa punya waktu untuk mereka sendiri?

Gue belum punya bayi, dan gue berencana punya bayi. Dalam rencana itu, gue ingin memberikan seluruh pengalaman, pengetahuan, cinta kasih, waktu, tenaga Shinta, buat bayi gue hingga kelak ia mampu sendirian.

Semata-mata karena gue ingin si bayi masa depan bahagia dan tidak gila dunia seperti Shinta. Karena bayi-bayi itu begitu berharga bagi masa depan bangsa dan agama. Gue yang sekarang akan sedikit-sedikit mempersiapkan diri untuk menjadi penanggung jawab bayi masa depan.

Menjadi seorang ibu, tinggal di rumah maupun bekerja, sama beratnya. Maka sedikit-sedikit saya juga ingin melepaskan beban berat itu dari ibu saya. Bayi saya, tanggung jawab saya.

Comments