"Kenapa tidak berteriak?" Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim, bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?" Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...
- Get link
- X
- Other Apps





Agak heran kemarin. Ini Java Jazz apa pensi ya :D
ReplyDeleteGw sempet nonton Raisa, kok rasa2nya suaranya nggak ada powernya sama sekali ya
Yah gak berjumpa. Gue kudu cerita pas di presconf room, incognito ngeliat JKT48 dan bilang, "hell if thy're a jazz band, i'd be in shock!!"
DeleteAs my first time in JJF, i didnt feel jazz enough tuh kak :D