Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Fall Over Heels

Kamu tau perasaan yang paling saya benci sedunia? Bukan, saya suka merasa sendirian. Toh saya selalu merasa cukup bergelut dengan pikiran sendiri dikala sepi. Satu rasa yang saya benci sebesar saya memujanya adalah jatuh cinta. Completely fall over heels and left my brain freeze.

Ketika saya jatuh cinta, saya selalu terburu-buru. Ingin segera mengabarkannya pada hati yang dituju. Hallo, kamu, saya jatuh cinta padamu. Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ada orang yang mengabarkan itu padamu? Terkejut, tersanjung, takut? Setidaknya kamu tau, kamu mampu memikat satu hati.

Ketika jatuh cinta, saya sedih. Merasa siapalah diri ini seenaknya bilang cinta. Siapalah saya, tidak layak bersanding dengannya. Otak saya berdenyut-denyut, menunjukkan kekurangan saya. Mengabarkan ketakutan saya. Ketika jatuh cinta, saya tidak menyukai diri saya. Lalu, bagaimana saya bisa membuatmu menyukai saya?

Jatuh cinta mereka angan saya. Melambungkan saya pada sketsa tidak nyata. Berharap terlampau tinggi, hingga menyakiti hati sendiri. Lalu ditinggal pergi. Ah tidak, sebenarnya saya tidak pernah mengabarkan kecintaan saya pada siapa pun. Saya hanya menjadi diri saya sendiri.

Saat saya jatuh cinta karena kamu, kamu pasti tau. Karena tak kan ada lagi yang menuliskan potongan kata cinta kepadamu seperti saya.  Karena saat saya jatuh cinta padamu, kamu lah pusat dunia saya. Saat itu kamu pun mampu membunuh saya tanpa berkata-kata.

Kecintaan saya yang menyesakkan seperti itu, pantaskan diperuntukkan pada mu?

Comments