Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Fall Over Heels

Kamu tau perasaan yang paling saya benci sedunia? Bukan, saya suka merasa sendirian. Toh saya selalu merasa cukup bergelut dengan pikiran sendiri dikala sepi. Satu rasa yang saya benci sebesar saya memujanya adalah jatuh cinta. Completely fall over heels and left my brain freeze.

Ketika saya jatuh cinta, saya selalu terburu-buru. Ingin segera mengabarkannya pada hati yang dituju. Hallo, kamu, saya jatuh cinta padamu. Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ada orang yang mengabarkan itu padamu? Terkejut, tersanjung, takut? Setidaknya kamu tau, kamu mampu memikat satu hati.

Ketika jatuh cinta, saya sedih. Merasa siapalah diri ini seenaknya bilang cinta. Siapalah saya, tidak layak bersanding dengannya. Otak saya berdenyut-denyut, menunjukkan kekurangan saya. Mengabarkan ketakutan saya. Ketika jatuh cinta, saya tidak menyukai diri saya. Lalu, bagaimana saya bisa membuatmu menyukai saya?

Jatuh cinta mereka angan saya. Melambungkan saya pada sketsa tidak nyata. Berharap terlampau tinggi, hingga menyakiti hati sendiri. Lalu ditinggal pergi. Ah tidak, sebenarnya saya tidak pernah mengabarkan kecintaan saya pada siapa pun. Saya hanya menjadi diri saya sendiri.

Saat saya jatuh cinta karena kamu, kamu pasti tau. Karena tak kan ada lagi yang menuliskan potongan kata cinta kepadamu seperti saya.  Karena saat saya jatuh cinta padamu, kamu lah pusat dunia saya. Saat itu kamu pun mampu membunuh saya tanpa berkata-kata.

Kecintaan saya yang menyesakkan seperti itu, pantaskan diperuntukkan pada mu?

Comments