Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Days in Jogja - As Far As You Can Walk

Masih mengandalkan sepasang kaki Sagittarius, sebenernya dari Stasiun Tugu emang lumayan deket kemana-mana dan cukup lurus aja ke selatan. Makanya, dari Malioboro ke titik nol kilometer, lanjut ke Keraton dan Museum Kereta, tinggal lurus lagi ke Taman Sari. Kota Jogja emang lagi cerah banget waktu gue berkunjung, makin siang malah makin panas hahaha. Tapi ya udahlah, gue juga mau tau sampai sejauh apa gue bisa jalan kaki. Karena udah check out dari penginapan, seharian itu gue bawa backpack dengan berkalung kamera.










Ditanya takut nyasar sih, entah kenapa nggak kepikiran itu. Nyasar itu kan kalau lo punya tujuan yang jelas, dan lo hilang arah pas menuju ke sana. Sedangkan gue, nggak punya tujuan pasti. Dimana ada langit bagus, scene unik, makanan enak, gue masih bisa terima. Toh kalaupun kemalaman di jalan, bisa cari penginapan terdekat, lagian gue punya dua insurance di kota ini, dua teman star dan dv yang siap menolong turis lokal yang nyasar. hihi.

Selain Benteng Vredeburg, di Keraton, Museum Kereta dan Taman Sari ada guide dengan pengetahuan mendalam dan bahasa Inggris beraksen Jawa. Biasanya sih, turis internasional, anak-anak sekolah dan rombongan besar yang menggunakan jasa guide. Kebetulan gue cuma sendirian, ngebayar guide rasanya terlalu mewah. Lagipula, kalau didampingi, gue akan selalu bertanya dan bertanya dan bertanya. Nanti malah lama. Terus nanti guidenya jadi bete. Siasat gue sih, mencuri dengar dari guide-guide yang disewa pengunjung lain. Ogah rugi emang :p.

Di Taman Sari, sebaiknya emang menggunakan guide, karena letaknya di tengah-tengah gang kecil perkampungan dan terpisah di empat tempat. Tanpa guide, berulang kali gue harus balik arah, ngulang jalan, hingga kaki terasa sakit digigit sepatu dan punggung diiris-iris tali tas. Minus topi, sunglasses apalagi payung, lumayan bikin muka gue terasa gosong. Semoga sunblock yang gue oleskan cukup menghalau zat jahat dari sinar matahari.