Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Days in Jogja - As Far As You Can Walk

Masih mengandalkan sepasang kaki Sagittarius, sebenernya dari Stasiun Tugu emang lumayan deket kemana-mana dan cukup lurus aja ke selatan. Makanya, dari Malioboro ke titik nol kilometer, lanjut ke Keraton dan Museum Kereta, tinggal lurus lagi ke Taman Sari. Kota Jogja emang lagi cerah banget waktu gue berkunjung, makin siang malah makin panas hahaha. Tapi ya udahlah, gue juga mau tau sampai sejauh apa gue bisa jalan kaki. Karena udah check out dari penginapan, seharian itu gue bawa backpack dengan berkalung kamera.










Ditanya takut nyasar sih, entah kenapa nggak kepikiran itu. Nyasar itu kan kalau lo punya tujuan yang jelas, dan lo hilang arah pas menuju ke sana. Sedangkan gue, nggak punya tujuan pasti. Dimana ada langit bagus, scene unik, makanan enak, gue masih bisa terima. Toh kalaupun kemalaman di jalan, bisa cari penginapan terdekat, lagian gue punya dua insurance di kota ini, dua teman star dan dv yang siap menolong turis lokal yang nyasar. hihi.

Selain Benteng Vredeburg, di Keraton, Museum Kereta dan Taman Sari ada guide dengan pengetahuan mendalam dan bahasa Inggris beraksen Jawa. Biasanya sih, turis internasional, anak-anak sekolah dan rombongan besar yang menggunakan jasa guide. Kebetulan gue cuma sendirian, ngebayar guide rasanya terlalu mewah. Lagipula, kalau didampingi, gue akan selalu bertanya dan bertanya dan bertanya. Nanti malah lama. Terus nanti guidenya jadi bete. Siasat gue sih, mencuri dengar dari guide-guide yang disewa pengunjung lain. Ogah rugi emang :p.

Di Taman Sari, sebaiknya emang menggunakan guide, karena letaknya di tengah-tengah gang kecil perkampungan dan terpisah di empat tempat. Tanpa guide, berulang kali gue harus balik arah, ngulang jalan, hingga kaki terasa sakit digigit sepatu dan punggung diiris-iris tali tas. Minus topi, sunglasses apalagi payung, lumayan bikin muka gue terasa gosong. Semoga sunblock yang gue oleskan cukup menghalau zat jahat dari sinar matahari.