Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

how your marriage ruined someone else's life

by not marrying them, that's my first answer. but this writing is more than a love bird.
suatu hari yang cerah, mendadak saya harus menghadiri pernikahan. kenapa harus, karena dia teman saya dari orang-orang yang saya hormati. lalu kami berfoto bersama. saya dan mempelai dan teman-teman dewasa yang datang bersama pasangan dan anak-anak.
saya pun ditanya 'kapan nyusul?' 'mana calonnya?' 'emang masih mau sendiri aja?' saya tidak lagi punya jawaban akan itu. jadi saya hanya tersenyum janggal.
pernah saya bertanya. 'kenapa kalian menikah?' dan saya mendapat jawaban klasik klise. 'karena udah waktunya', 'karena sunah rasuh', 'karena untuk menjaga diri dari zina', 'karena sudah terlalu lama bersama tanpa menikah'. tapi bukan itu jawaban yang saya cari.
mungkin pertanyaan saya harusnya adalah: 'apa yang ingin kalian dapatkan dari pernikahan ini?' saya belum pernah bertanya demikian pada orang lain. tapi saya yakin saya tau apa yang saya inginkan dari sebuah pernikahan.


pernikahan tidak pernah tentang dua orang hidup bersama. pernikahan selalu tentang keluarga. dua keluarga yang bergabung menjadi satu, dan keluarga masa depan yang akan dilahirkan. pernikahan bukan tentang menghalalkan hubungan seks semata. apalagi demi keterjaminan financial.
pernikahan seharusnya tentang menciptakan generasi yang lebih baik. dan untuk ini, mereka yang memutuskan menikah, haruslah siap dengan misi mereka. dimulai dengan memilih partner yang diinginkan untuk menjalankan misi. bukan yang terbaik atau yang layak, tapi yang compatible.
dilanjutkan dengan menyamakan visi dan misi. bagaimana keluarga saat ini dan keluarga masa depan merasa terberkahi dengan pernikahan yang terjadi. berkomunikasi. dengan ungkapan linguistik yang lebih canggih dari hewan. mendidik, dengan mengajak, bukannya menyuruh.
pernikahan tidak cuma tentang dua orang yang memutuskan harus hidup bersama. ini tentang keluarga mereka, anak-anak mereka, tentang scoop pemerintahan terkecil, miniatur sebuah negara. pernikahan seharusnya membawa keberkahan. karena dari situlah bisa tumbuh manusia-manusia yang tidak haus dunia.
bagaimana pernikahanmu menghancurkan hidup orang lain? bisa jadi karena kamu tidak tau kenapa harus menikah. bisa jadi karena kamu tidak punya visi dan misi untuk menikah. bisa jadi karena kamu tidak punya bekal pengetahuan untuk menikah. bisa jadi karena kamu pikir, kamu menikah untuk membahagiakan dirimu.
tapi pernikahan tidak pernah tentang dirimu. ia selalu tentang orang lain. dan hidup siapa yang kamu hancurkan karena kamu tidak tau tentang pernikahan? bisa jadi hidupmu sendiri. bisa jadi hidup pasanganmu. bisa jadi hidup orang tua mu. bisa jadi hidup kakak-adikmu.
dan hidup siapa yang kamu hancurkan dengan pernikahanmu? bisa jadi itu hidup anakmu. penjejak masa depanmu.