Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Jaka

Kadang kalo kecapekan pas pulang, gue naik ojek menuju rumah. Setelah berbilang taun, gerombolan pengojek di ujung jalan itu pun apal rumah gue dimana. Gue pun apal siapa yang suka ngebut, siapa yang bau badan. Begitu juga dengan si Jaka.

Sebut saja Jaka, entah nama sebenarnya atau bukan. Apa yang membedakan dia dari tukang ojek lainnya? Bisa jadi karena IQ Jaka gak sempurna. Katanya Jaka mengidap down syndrome. Terlihat pula di wajah dan tingkat emosi yang seperti anak TK.

Gue pun masih penasaran sekaligus salut bahwa seorang Jaka dengan down syndrome masih bisa mencari nafkah. Bukan mengemis, tidak mengeksploitasi keistimewaannya untuk sekeping rasa kasihan. Rasanya Jaka ngojek lebih lama daripada gue bulak-balik jalan itu.

Dunia gak ramah sama orang kayak Jaka. Kadang ada aja temen sesama tukang ojek gangguin dia. Jaka gampang meledak marah. Persis anak tiga tahun yang direbut eskrimnya. Hal itu malahan bikin yang lain tambah seneng ngisengin dia.

Barusan Jaka cerita, pernah ban motornya ditempelin paku. Karena Jaka berbeda, ia baru menyadari saat ban tadi bener2 kempes. Saat penumpangnya teriak karena motor Jaka oleng. Kadang tukang ojek lain bikin Jaka nggak dapet penumpang karena orang-orang takut melihat penampakan emosi di wajah Jaka.

Gue jadi kepikiran. Kalau begini, siapa sebenernya yang terbelakang? Jaka dengan down syndrome-nya yang mencari uang secara halal dan bermartabat. Atau tukang ojek yang make fun of him dengan dalih cuma bercanda.

Jujur sih gue gak suka kalau ngojek sama Jaka. Bawa motornya pelan dan ngomongnya ngelantur. Tapi pernah suatu hari gue protes karena dia bau badan, setelah itu Jaka selalu wangi pas ngojek. Pun gue penasaran mau nanya gimana dia bisa belajar motor dan apakah dia punya sim?

Lain waktu gue mau ngeluh soal kehidupan di dunia, gue akan mengingat sosok Jaka dan berjuang lebih keras. Karena yang membedakan gue dan Jaka mungkin cuma selembar kertas tipis berisi tes IQ.

Comments